5 Strategi Jitu Mengatasi Microaggression Stress dan Cegah Overthinking Berlama-lama

0
microaggression stress
Ilustrasi Beragam pelamar pria memperhatikan pesaing wanita saat menunggu wawancara kerja.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Pernah merasa kesal setelah menerima komentar yang terdengar sepele, tetapi terus terbayang hingga berjam-jam bahkan berhari-hari? Kondisi ini bisa jadi merupakan dampak dari microaggression stress, yaitu tekanan emosional akibat perlakuan atau ucapan yang tampak ringan, namun menyiratkan prasangka, stereotip, atau merendahkan seseorang.

Meski sering dianggap bukan masalah besar, akumulasi pengalaman microaggression dapat memengaruhi kesehatan mental. Tak sedikit orang yang kemudian terjebak dalam overthinking, terus memutar ulang kejadian di kepala, mempertanyakan diri sendiri, hingga kehilangan fokus dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Para psikolog menilai bahwa mengenali dan mengelola respons terhadap microaggression menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan emosi. Berikut lima strategi yang dapat diterapkan.

1. Kenali Bahwa Perasaan Anda Valid

Baca Juga :  Creamy Melon Sago, Minuman Dingin yang Pas untuk Menyegarkan Hari Panas

Langkah pertama adalah mengakui bahwa pengalaman tersebut memang memengaruhi kondisi emosional. Jangan buru-buru menganggap diri terlalu sensitif atau berlebihan. Mengenali emosi seperti kecewa, marah, atau sedih membantu otak memproses pengalaman dengan lebih sehat sehingga tidak terus tersimpan sebagai beban pikiran.

2. Hentikan Siklus Overthinking

Ketika pikiran mulai mengulang-ulang percakapan atau kejadian yang sama, cobalah mengalihkan perhatian pada aktivitas yang membutuhkan fokus, seperti berjalan kaki, membaca, berolahraga, atau menulis jurnal.

Menuliskan apa yang terjadi beserta perasaan yang muncul juga dapat membantu melihat situasi secara lebih objektif dan mengurangi kecenderungan menyalahkan diri sendiri.

3. Tetapkan Batasan dengan Bijak

Tidak semua komentar harus didiamkan. Jika situasi memungkinkan, sampaikan dengan tenang bahwa ucapan atau tindakan tersebut membuat Anda tidak nyaman. Menetapkan batasan merupakan bentuk menjaga kesehatan mental, bukan tanda bersikap agresif.

Baca Juga :  5 Pikiran yang Sering Menghantui Tapi Belum Tentu Jadi Kenyataan

Apabila tidak memungkinkan untuk merespons saat itu juga, memilih menjauh dari situasi yang tidak sehat juga merupakan keputusan yang bijaksana.

4. Cari Dukungan dari Orang Terpercaya

Berbagi cerita kepada keluarga, sahabat, atau rekan yang dapat dipercaya dapat membantu meringankan beban emosional. Dukungan sosial terbukti membuat seseorang merasa dipahami dan tidak menghadapi masalah sendirian.

Jika tekanan mulai mengganggu kualitas tidur, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi pilihan yang tepat.

5. Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan

Sering kali seseorang menghabiskan banyak energi memikirkan alasan orang lain bersikap demikian. Padahal, tidak semua perilaku orang lain berada dalam kendali kita.

Baca Juga :  Perambah Koridor Gajah Sumatera Ditangkap, Satu Tersangka Diamankan

Sebaliknya, arahkan perhatian pada hal-hal yang dapat dikontrol, seperti cara merespons, menjaga kesehatan fisik, memperkuat rasa percaya diri, dan membangun lingkungan yang suportif. Langkah ini membantu mengurangi stres sekaligus mencegah pikiran terus terjebak dalam penyesalan atau kemarahan.

Microaggression mungkin tampak sebagai hal kecil, tetapi dampaknya bisa terasa besar jika terjadi berulang dan tidak dikelola dengan baik. Mengenali emosi, menghentikan siklus overthinking, membangun batasan yang sehat, serta mencari dukungan merupakan langkah sederhana yang dapat menjaga kesehatan mental.

Mengelola respons terhadap situasi yang tidak menyenangkan bukan berarti mengabaikan masalah, melainkan memberi ruang bagi diri sendiri untuk tetap sehat secara emosional dan menjalani aktivitas dengan lebih tenang.***

Editor : Alysa

Sumber : idntimes.com