NARASITODAY.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini merilis laporan yang mengungkapkan bahwa sekitar 71 ribu perempuan di Indonesia, atau sekitar 8 persen dari total populasi perempuan usia subur yang pernah menikah, memilih untuk tidak memiliki anak, sebuah fenomena yang dikenal dengan istilah “childfree.”
Laporan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam prevalensi childfree selama empat tahun terakhir, di mana angka ini meningkat dari 7 persen pada tahun 2019 menjadi 8,2 persen pada tahun 2022.
Temuan ini diambil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang mencakup perempuan berusia 15 hingga 49 tahun yang belum pernah melahirkan anak dan tidak menggunakan alat kontrasepsi.
Veronica Tan, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, menjelaskan bahwa pilihan untuk hidup childfree sering kali dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan kesadaran akan tanggung jawab besar dalam membesarkan anak.
“Perempuan yang teredukasi cenderung memahami bahwa menjadi orang tua memerlukan komitmen dan kualitas yang harus diberikan kepada anak. Jika mereka merasa tidak mampu memberikan hal tersebut, maka keputusan untuk tidak memiliki anak menjadi pilihan yang lebih baik,” ungkapnya dalam sebuah wawancara di Jakarta.
Ia juga menambahkan bahwa banyak perempuan kini lebih memilih untuk fokus pada pengembangan karier dan pencapaian pribadi sebelum memikirkan peran sebagai ibu.
Veronica juga menyoroti bahwa faktor-faktor sosial dan ekonomi turut berperan dalam keputusan ini. “Biaya pengasuhan anak yang tinggi, ditambah dengan tantangan ekonomi saat ini, membuat banyak perempuan berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk memiliki anak,” jelasnya.
Selain itu, ia mencatat bahwa stigma negatif terhadap pilihan childfree masih ada di masyarakat, terutama di daerah-daerah dengan tradisi kuat terhadap pernikahan dan keluarga. “Kami berharap masyarakat dapat lebih terbuka dan memahami bahwa setiap individu memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa merasa tertekan oleh norma-norma sosial,” tambahnya.
Salah satu responden, Tasya, seorang mahasiswi berusia 20 tahun dari Depok, mengungkapkan alasannya memilih childfree. “Menjadi orang tua adalah tanggung jawab besar dan saya tidak yakin bisa menjalankan peran itu dengan baik. Saya merasa lebih nyaman dengan keputusan ini karena saya ingin fokus pada pengembangan diri dan karier saya,” katanya.
Tasya menambahkan bahwa keputusannya bukanlah hal yang mudah; ia telah mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk keuangan dan kesiapan mental. “Saya ingin mengeksplorasi dunia, belajar banyak hal baru, dan mencapai impian saya tanpa harus terikat oleh tanggung jawab sebagai orang tua.”
Dalam wawancara tersebut, Tasya juga berbagi pandangannya tentang stigma yang sering dialami oleh mereka yang memilih childfree. “Kadang-kadang saya merasa orang-orang di sekitar saya tidak mengerti pilihan ini. Mereka sering bertanya mengapa saya tidak ingin punya anak atau mengatakan bahwa saya akan menyesal di kemudian hari. Namun bagi saya, penting untuk mengikuti apa yang membuat saya bahagia,” ujarnya dengan tegas.
Fenomena childfree ini juga menunjukkan adanya perubahan sikap di kalangan perempuan Indonesia terhadap konsep keluarga dan peran sebagai ibu. Dengan semakin banyaknya perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak, tren ini berpotensi mempengaruhi angka kelahiran di Indonesia secara keseluruhan.
BPS memperingatkan bahwa jika tren ini terus berlanjut, Indonesia mungkin akan mengalami penurunan signifikan dalam total fertility rate (TFR), yang dapat berdampak pada struktur demografi negara di masa depan.
Veronica menambahkan bahwa pemerintah perlu melakukan pendekatan yang lebih inklusif dalam memahami pilihan hidup perempuan. “Kami harus mendukung semua pilihan hidup perempuan, termasuk mereka yang memilih untuk childfree, agar mereka merasa dihargai dan didengar,” katanya.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan dan tanggung jawab dalam pengasuhan anak serta tantangan ekonomi yang ada, fenomena childfree di Indonesia tampaknya akan terus berkembang.
Ini menandakan perubahan besar dalam cara pandang masyarakat terhadap peran perempuan dan keluarga di era modern saat ini.***














