NARASITODAY.COM – Belakangan ini, tagar #KaburAjaDulu menjadi topik hangat di media sosial, mencerminkan rasa frustrasi yang dialami oleh banyak generasi muda Indonesia. Tekanan yang dihadapi akibat kondisi pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari di dalam negeri menjadi faktor utama munculnya tagar ini.
Tagar tersebut tidak hanya menunjukkan keinginan untuk melarikan diri dari situasi yang dianggap tidak menguntungkan, tetapi juga menggambarkan fenomena yang lebih luas meningkatnya minat generasi muda Indonesia untuk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.
Banyak pengguna media sosial memanfaatkan tagar ini untuk berbagi pengalaman tentang kehidupan mereka di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, India, Jepang, atau Dubai.
Beberapa bahkan menyatakan bahwa berpindah kewarganegaraan bisa menjadi pilihan terbaik, mengingat kondisi yang lebih menguntungkan di negara-negara tersebut. Hal ini menyebabkan perbincangan tentang berbagai cara untuk pindah ke luar negeri semakin marak di kalangan netizen Indonesia.
BRAIN DRAIN
Tingginya minat untuk kuliah dan bekerja di luar negeri terlihat jelas pada acara Study and Work Abroad Festival 2024, yang diselenggarakan oleh Schoters, sebuah platform informasi mengenai beasiswa dan kesempatan kuliah atau bekerja di luar negeri.
“Kami merasakan lonjakan peminat yang signifikan di website dan media sosial. Pada acara Study and Work Abroad Festival yang berlangsung Juli-Agustus 2024, peminatnya mencapai lebih dari 100.000 orang. Kami sangat terkejut dengan angka tersebut,” kata perwakilan Schoters, seperti dikutip dari Kompas.
Data dari Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkumham juga menunjukkan bahwa antara 2019 hingga 2022, terdapat 3.912 WNI yang memilih untuk menjadi warga negara Singapura.
Sebagian besar dari mereka adalah individu berusia produktif antara 25 hingga 35 tahun. Proses brain drain ini berpotensi merugikan negara karena Indonesia kehilangan sumber daya manusia yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan inovasi.
MASA DEPAN YANG TIDAK PASTI
Musni Umar, seorang sosiolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, berpendapat bahwa fenomena #KaburAjaDulu muncul karena generasi muda Indonesia yang terdidik merasa terjebak dalam ketidakpastian masa depan. Hal ini tercermin dari tingkat pengangguran di dalam negeri.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa hingga Agustus 2024, terdapat 842.378 lulusan pendidikan S1, S2, dan S3 yang masih menganggur. “Sementara total pengangguran di Indonesia per Agustus 2024 mencapai 7.465.599 orang,” ungkap Musni Umar.
Ia menambahkan bahwa angka tersebut hanya mencakup pengangguran terbuka, sedangkan jumlah mereka yang tidak terdata jauh lebih banyak. Menurut Musni Umar, ketika masa depan di dalam negeri terasa suram, banyak generasi muda berpendidikan memilih untuk “kabur” ke luar negeri.
“Bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk menjadi warga negara di negara yang menawarkan gaji layak, jaminan kesehatan, dan pendidikan yang baik bagi anak-anak mereka,” tambahnya.
Fenomena ini juga berkaitan erat dengan pengelolaan negara yang buruk, mengakibatkan banyak industri manufaktur dan tekstil di Indonesia mengalami kebangkrutan. “Mereka merasa bahwa masa depan mereka di Indonesia dipenuhi ketidakpastian,” katanya.
Ini berujung pada krisis kepercayaan terhadap negara dan hilangnya harapan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik di tanah air. “Pilihan mereka akhirnya adalah untuk ‘kabur’ dari Indonesia,” jelas Musni Umar.
Namun, ia tetap optimis bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki kapasitas untuk memberikan harapan baru bagi masa depan Indonesia.
“Dengan demikian, kami berharap ke depan tidak perlu ‘kabur’ ke luar negeri karena hidup di Indonesia dapat sejahtera dan makmur,” tutup Musni Umar.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel













