NARASITODAY.COM – Sholat Dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan. Ibadah ini memiliki banyak keutamaan dan bisa dilaksanakan pada pagi hari setelah matahari terbit. Artikel ini akan menjelaskan tata cara, waktu pelaksanaan, serta manfaat dari sholat Dhuha.
Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diikuti dalam melaksanakan sholat Dhuha:
اُصَلِّى سُنَّةَ الضَّحٰى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً ِللهِ تَعَالَى
Arab Latin: Ushalli sunnatadh dhuhaa rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku berniat melaksanakan shalat sunnah Dhuha dua rakaat, menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala.”
- Takbiratul ihram.
- Membaca doa iftitah.
- Membaca Surah Al-Fatihah.
- Membaca salah satu surah dalam Al-Qur’an.
- Rukuk dengan tuma’ninah.
- I’tidal (berdiri setelah rukuk).
- Sujud pertama dengan tuma’ninah.
- Duduk di antara dua sujud.
- Sujud kedua.
- Berdiri untuk rakaat kedua dan mengulang langkah-langkah seperti pada rakaat pertama.
- Tasyahud akhir dan salam.
Setelah menyelesaikan dua rakaat, sholat Dhuha bisa dilanjutkan dengan menambah rakaat sesuai keinginan. Jika ingin melaksanakan empat rakaat, bisa dilakukan dalam dua kali sholat (2-2), dan untuk enam rakaat, bisa dilakukan dalam tiga kali sholat (2-2-2). Jumlah rakaat dapat disesuaikan dengan kemampuan dan niat masing-masing.
Dalil mengenai jumlah rakaat sholat Dhuha terdapat dalam hadits berikut:
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
“Rasulullah SAW pernah melaksanakan sholat Dhuha sebanyak empat rakaat, dan beliau menambahkannya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.” (HR. Muslim)
Kapan Waktu yang Tepat untuk Sholat Dhuha?
Menurut buku Seri Fikih Kehidupan karya Ahmad Sarwat, sholat Dhuha dilaksanakan pada waktu dhuha, yaitu setelah matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Hal ini sesuai dengan hadits berikut:
Dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Shalat awwabin (Dhuha) berakhir hingga panas menyengat (tengah hari).” (HR. Ahmad, Muslim, dan Tirmidzi).
Sholat Dhuha adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa sholat ini merupakan sunnah yang dianjurkan (mustahabbah), meskipun tidak termasuk sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan).
Namun, Mazhab Maliki dan Syafi’i mengklasifikasikan sholat Dhuha sebagai sunnah muakkadah karena memiliki keutamaan yang besar.
Dalam buku Fikih Wanita oleh Ust. Muiz al Bantani, dijelaskan bahwa sholat Dhuha memiliki berbagai keutamaan. Salah satunya disebutkan dalam hadits berikut:
Dari Abu Dzar, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Pada pagi hari, diwajibkan bagi setiap persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap bacaan tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap bacaan tahlil (Laa ilaha illallah) adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu Akbar) juga adalah sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) dan nahi mungkar (mencegah kemungkaran) adalah sedekah. Semua ini dapat dicukupi dengan melaksanakan sholat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim)
Menurut Imam Nawawi, hadits Abu Dzar ini menunjukkan keutamaan besar sholat Dhuha. Dengan dua rakaat, seorang muslim telah mencukupi kewajiban sedekah untuk setiap persendiannya.
Dari hadits ini, dapat dipahami bahwa setiap persendian manusia memiliki hak untuk disyukuri, dan salah satu cara yang paling mudah serta bernilai tinggi untuk menunaikannya adalah dengan melaksanakan sholat Dhuha.***














