NARASITODAY.COM – Peristiwa yang mengejutkan terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kutacane, Aceh. Sekitar pukul 18.20 WIB, puluhan tahanan berhasil kabur dengan melompati pagar dan berlari ke arah penjual takjil yang berada di depan lapas.
Aksi mereka cepat menjadi viral di media sosial, di mana dalam video yang beredar, tampak beberapa tahanan melarikan diri dengan mengenakan pakaian minim, hanya celana, dan berlari menuju kerumunan warga.
Kaburnya 52 tahanan ini memicu perhatian banyak pihak, termasuk pemerintah yang sedang mendalami penyebab utama kejadian ini. Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), Agus Andrianto, menyampaikan dugaan sementara bahwa masalah makanan mungkin menjadi faktor pemicu.
“Kita ingin tahu apakah betul masalah makanan yang menjadi penyebab atau ada faktor lain yang berhubungan dengan perilaku petugas dalam layanan,” kata Agus di Kementerian Imipas, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (11/3).
Agus menambahkan bahwa ada informasi yang berkembang tentang para napi yang kabur setelah menuntut peningkatan kualitas makanan yang diberikan. “Napi meminta jatah makan yang setara dengan yang diberikan kepada narapidana dari KPK. Memang ada beberapa klasifikasi, ada yang Rp 18 ribu per hari, ada yang Rp 20 ribu, dan ada yang Rp 22 ribu,” ungkapnya.
Selain isu makanan, Agus juga menyoroti masalah overkapasitas yang terjadi di Lapas Kutacane. Lapas yang seharusnya hanya menampung 100 orang kini dihuni lebih dari 368 tahanan.
“Overcapacity ini selalu menjadi masalah klasik yang terjadi. Dengan kapasitas yang melampaui batas, banyak masalah yang muncul,” jelasnya. Hal ini semakin diperburuk dengan jumlah petugas yang terbatas, di mana saat kejadian hanya ada enam petugas yang berjaga.
Menteri Agus juga mengimbau agar para tahanan yang kabur segera menyerahkan diri. “Lebih baik mereka menyerahkan diri daripada menambah masalah yang lebih besar,” katanya, seraya berharap pihak kepolisian juga akan mengimbau hal yang sama.
Hingga saat ini, dari 52 tahanan yang kabur, 16 orang telah berhasil diamankan, sementara 36 lainnya masih dalam pengejaran. Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Joko Krisdiyanto, mengungkapkan bahwa kondisi di dalam lapas kini sudah kembali kondusif, dan satu peleton Brimob telah dikerahkan untuk mencegah gangguan lebih lanjut.
“Kami mengajak masyarakat untuk melaporkan jika mengetahui keberadaan para napi yang kabur,” ujarnya.
Dugaan penyebab kaburnya para tahanan tidak hanya terkait masalah makanan, tetapi juga terkait dengan tuntutan mereka akan fasilitas di dalam lapas. “Mereka sempat menuntut adanya bilik asmara di dalam lapas, yang kewenangannya ada di pusat,” ujar Kepala Lapas Kelas II B Kutacane, Andi Hasyim.
Menurutnya, saat kejadian, petugas hanya berjumlah enam orang sementara jumlah tahanan mencapai 362 orang. Beberapa tahanan bahkan berhasil membobol dua pintu dan atap lapas. “Tahanan yang kabur didominasi oleh napi narkoba,” jelasnya.
Dengan adanya berbagai faktor yang turut mempengaruhi kejadian ini, pihak berwenang terus menyelidiki lebih dalam penyebab sebenarnya dari kaburnya para tahanan, sambil berusaha memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang di masa depan.***














