NARASITODAY.COM – Ratusan warga Palestina di Gaza utara menggelar protes besar-besaran pada Selasa (25/3/2025) malam, menandai demonstrasi terbesar yang ditujukan terhadap kelompok Hamas sejak serangan pada 7 Oktober.
Para demonstran, yang sebagian besar terdiri dari laki-laki, menuntut agar perang dengan Israel segera dihentikan. Aksi ini berlangsung di Beit Lahia, tepatnya di depan Rumah Sakit Indonesia, dan menyuarakan slogan-slogan anti-Hamas.
Di media sosial, video dan foto demonstrasi tersebut menyebar luas, memperlihatkan peserta yang meneriakkan “Hamas keluar” dan “Hamas teroris”. Protes ini menunjukkan semakin meningkatnya ketidakpuasan terhadap kelompok yang telah menguasai Gaza sejak 2007. Salah satu peserta protes menegaskan, “Saya ikut serta untuk menyampaikan pesan dari rakyat: Cukup sudah dengan perang ini,” ujar pria tersebut kepada AFP.
Protes ini berlangsung di tengah serangan udara intensif Israel yang kembali dilanjutkan setelah gencatan senjata hampir dua bulan berakhir. Banyak dari para peserta aksi yang membawa spanduk bertuliskan “Hentikan perang” dan “Kami ingin hidup damai”. Tuntutan serupa juga terdengar di kamp pengungsi Jabalia, di bagian barat Kota Gaza, di mana puluhan orang membakar ban dan menyerukan agar perang segera diakhiri.
Beberapa warga yang terlibat dalam aksi ini mengungkapkan bahwa mereka merasa lelah dengan konflik yang sudah berlangsung begitu lama. “Jika meninggalkan kekuasaan di Gaza adalah solusi, mengapa Hamas tidak menyerahkannya demi melindungi rakyat?” kata Majdi, salah satu demonstran, kepada AFP. Di sisi lain, meski aksi tersebut meluas, beberapa pihak melaporkan adanya upaya dari anggota keamanan Hamas yang menyamar untuk membubarkan protes.
Masyarakat Gaza kini semakin merasakan penderitaan akibat perang yang berkepanjangan. Sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober, protes-protes dengan skala lebih kecil telah bermunculan di Gaza, terutama untuk menuntut diakhirinya perang.
Banyak dari slogan-slogan tersebut yang mengingatkan pada gerakan “Bidna N’eesh” atau “Kami Ingin Hidup”, yang sempat muncul dalam protes ekonomi pada 2019. Saat itu, Hamas menindak tegas demonstrasi tersebut dan menuduhnya dimobilisasi oleh rival politik mereka, Fatah.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Gaza, sejak Israel melanjutkan operasi militer mereka pada Maret 2025, setidaknya 792 warga Palestina telah tewas. Serangan pada 7 Oktober lalu juga menewaskan 1.218 orang, sebagian besar adalah warga sipil.
Sebagai balasan, Israel melancarkan agresi militer yang telah menyebabkan lebih dari 50.021 warga Palestina tewas, mayoritas dari mereka adalah warga sipil.
Protes besar ini menggambarkan ketidakpuasan mendalam warga Gaza terhadap kelompok yang seharusnya menjadi pelindung mereka, namun malah memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah yang sudah terlilit kesulitan.***














