Visa Mahasiswa Dicabut Tanpa Alasan Jelas, Komunitas Akademik Global Resah

0
Visa Mahasiswa Dicabut Ilustrasi Tanpa Alasan Jelas, Komunitas Akademik Global Resah

NARASITODAY.COM – Sebuah awan ketidakpastian dan kecemasan kini menyelimuti ratusan mahasiswa dan peneliti asing yang menimba ilmu di Amerika Serikat. Tanpa alasan yang jelas, visa mereka tiba-tiba dicabut, menimbulkan tanda tanya besar di tengah kebijakan imigrasi yang semakin diperketat di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Berdasarkan penelusuran mendalam CNN terhadap dokumen pengadilan, pernyataan para pengacara, serta pengumuman dari lebih dari 80 universitas dan perguruan tinggi di seluruh negeri, terungkap fakta mencengangkan: lebih dari 525 nyawa intelektual muda dan para pencari ilmu telah menjadi korban pencabutan visa sepanjang tahun ini.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio bahkan secara terbuka menyatakan bahwa Departemen Luar Negeri, di bawah kepemimpinannya, telah mencabut lebih dari 300 visa, dan mayoritas di antaranya adalah visa mahasiswa. Sebuah pengakuan yang memperjelas skala masalah yang tengah dihadapi komunitas akademik internasional di AS.

Kasus-kasus awal yang mencuat ke permukaan publik menyasar individu yang dituduh memiliki kaitan dengan organisasi teroris, seperti penangkapan Mahmoud Khalil setelah ia terlibat dalam aksi protes pro-Palestina di Universitas Columbia.

Baca Juga :  Wabup Kabupaten Bogor Jaro Ade Takziah ke Rumah Duka Pasutri yang Tewas Hanyut di Sungai Cisarua

Namun, kini, gelombang ancaman deportasi semakin meluas, menimpa mahasiswa dengan alasan yang tampak remeh-temeh – pelanggaran kecil di masa lalu, menurut para pengacara imigrasi – atau bahkan yang lebih membingungkan, tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penargetan yang membingungkan terhadap warga negara asing yang berafiliasi dengan universitas-universitas ternama di AS ini terjadi di tengah gelombang tindakan keras imigrasi yang lebih luas oleh pemerintahan Trump. Kebijakan ini mencakup penggunaan kewenangan yang luas untuk melabeli sejumlah migran sebagai anggota geng dan mendeportasi mereka tanpa melalui proses persidangan yang semestinya.

Jeff Joseph, presiden terpilih Asosiasi Pengacara Imigrasi Amerika, melihat fenomena ini sebagai taktik yang disengaja untuk menciptakan ketakutan.

“Semua instrumen dalam undang-undang imigrasi sebenarnya sudah ada sebelumnya, tapi sekarang digunakan dengan cara yang menimbulkan kepanikan massal, kekacauan, dan ketakutan, dengan harapan para mahasiswa tidak mendapatkan bantuan hukum yang memadai dan pada akhirnya akan meninggalkan negara ini secara sukarela,” ujarnya, menggambarkan situasi yang penuh tekanan bagi para mahasiswa asing.

Baca Juga :  5 Perbedaan Perawatan Tanaman Daun dan Bunga yang Jarang Diketahui

Kisah terbaru yang menjadi sorotan adalah kasus Kseniia Petrova, seorang warga negara Rusia yang bekerja sebagai peneliti di Harvard Medical School. Ia ditahan dengan alasan yang tampak absurd: membawa embrio katak ‘non-berbahaya’ tanpa mendeklarasikannya dalam formulir bea cukai saat kembali ke AS. Alih-alih dikenai denda yang mungkin lebih proporsional, visa kunjungan pertukaran miliknya justru dicabut, dan ia harus merasakan dinginnya sel tahanan.

Greg Romanovsky, pengacara Petrova, mengecam tindakan otoritas AS sebagai hukuman yang tidak sebanding dengan pelanggaran yang dilakukan kliennya, yang ia sebut sebagai “kesalahan yang tidak disengaja.”

CNN telah berupaya meminta tanggapan dari Departemen Keamanan Dalam Negeri terkait kasus ini, namun belum mendapatkan komentar resmi. Kendati demikian, departemen tersebut memberikan penjelasan kepada ABC News mengenai alasan penahanan Petrova.

“Pesan-pesan yang ditemukan di ponsel (Petrova) mengungkap bahwa ia berencana menyelundupkan material tersebut melewati bea cukai tanpa mendeklarasikannya,” tulis pesan dari departemen tersebut.

Baca Juga :  Dampak Tarif Impor Trump: Resesi Global Mungkin Tak Terhindarkan

Saat ini, Petrova mendekam di fasilitas tahanan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) di Louisiana, menanti sidang yang dijadwalkan pada 9 Juni. Sidang tersebut dapat berujung pada deportasinya kembali ke Rusia, sebuah negara yang menurut pengacaranya, dapat menjadi ancaman baginya karena sikap vokalnya yang menentang invasi Rusia ke Ukraina. “Penahanannya tidak hanya tidak perlu, tapi juga tidak adil,” tegas Romanovsky, menyuarakan keprihatinannya atas nasib kliennya.

Kisah Petrova dan ratusan mahasiswa serta peneliti lainnya menjadi cerminan suram dari kebijakan imigrasi AS yang semakin tidak terduga. Di balik citra Amerika sebagai tanah kebebasan dan kesempatan, kini tersembunyi ketakutan dan ketidakpastian bagi mereka yang datang dari berbagai belahan dunia untuk menuntut ilmu dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan.

Masa depan mereka di AS kini terancam, bukan karena tindakan kriminal atau ancaman keamanan, melainkan karena kebijakan yang dinilai banyak pihak tidak proporsional dan tanpa alasan yang jelas.***