Mantan Pemain Sirkus OCI Laporkan Kekerasan dan Eksploitasi ke Kemenkumham, Harap Keadilan

0
Mantan Pemain Sirkus OCI Laporkan Kekerasan dan Eksploitasi ke Kemenkumham, Harap Keadilan

NARASITODAY.COM – Di balik riuh rendah musik, sorak sorai penonton, dan atraksi mendebarkan di atas panggung sirkus, tersimpan cerita kelam yang selama bertahun-tahun tersembunyi dari mata publik.

Baru-baru ini, dalam sebuah audiensi yang penuh haru dengan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham) Mugiyanto, sejumlah mantan pemain perempuan Oriental Circus Indonesia (OCI) memberanikan diri membuka lembaran kelam masa lalu mereka.

Bukan sekadar kenangan akan latihan keras dan tuntutan profesionalisme, hidup mereka justru diwarnai luka fisik dan psikis yang mendalam, rantai kekerasan yang tak kasat mata bagi para penikmat hiburan.

Pertunjukan yang pernah memukau pengunjung Taman Safari Indonesia itu ternyata menyimpan trauma mendalam bagi para korbannya, trauma yang membekas hingga hari ini.

Butet, bukan nama sebenarnya, salah satu mantan pemain yang hadir dalam audiensi tersebut, dengan suara bergetar menceritakan bagaimana tubuhnya menjadi objek pelampiasan amarah jika penampilannya di atas panggung dianggap mengecewakan.

“Kalau main saat show tidak bagus, saya dipukuli,” tuturnya lirih, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya di Kantor Kemenkumham, Jakarta. Kekerasan fisik yang dialaminya tak hanya berupa pukulan.

Baca Juga :  Strategi Cerdas Enea Bastianini: Tembus 3 Besar di Sprint Race MotoGP Thailand 2024

Butet bahkan pernah merasakan dinginnya rantai gajah yang membelenggu tubuhnya, membuatnya kesulitan bergerak, bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan biologis.

Lebih memilukan lagi, di saat mengandung buah hatinya, ia tetap dipaksa untuk tampil di atas panggung, sebelum akhirnya dipisahkan secara paksa dari sang bayi setelah melahirkan.

“Saya tidak bisa menyusui anak saya,” ucapnya dengan nada pilu yang menusuk hati. Di titik nadir kehidupannya, Butet dipaksa melakukan tindakan yang sungguh merendahkan martabat manusia.

Hanya karena ketahuan mengambil sedikit makanan yang seharusnya menjadi haknya, ia dipaksa menelan kotoran gajah. “Saya cuma ambil daging empal. Tapi saya dijejali kotoran gajah,” kenangnya dengan tatapan kosong, seolah kejadian itu masih terbayang jelas di benaknya.

Luka masa lalu tak hanya membekas pada diri Butet, tetapi juga merenggut masa kecil putrinya, Fifi. Tumbuh dalam lingkungan sirkus yang keras, Fifi menjadi korban dari sistem yang bengis. Sejak bayi, ia dirawat oleh salah satu petinggi OCI tanpa mengetahui siapa ibu kandungnya.

Baca Juga :  Keputusan Presiden Prabowo Jadi Isyarat Kuat Prioritas Keadilan untuk Guru

Ingatan traumatis masa kecilnya terukir jelas dalam benaknya. “Saya sempat diseret, dikurung di kandang macan. Saya susah buang air besar karena takut. Saya nggak tahan, akhirnya saya kabur lewat hutan malam-malam,” kisahnya dengan nada getir.

Namun, pelarian seorang anak kecil tentu tak berlangsung lama. Fifi ditemukan kembali dan justru menghadapi kekerasan yang lebih sadis. Tubuhnya menjadi sasaran penyiksaan, termasuk disetrum di bagian kelamin, dipasung seperti binatang, hingga tak kuasa menahan siksaan hingga mengompol di tempat.

“Rambut saya ditarik, saya ngompol di tempat, lalu saya dipasung,” kata Fifi, suaranya tercekat menahan isak tangis.

Kesaksian pedih lainnya datang dari Ida, seorang korban lain yang kini harus menjalani sisa hidupnya di atas kursi roda. Ia menceritakan bagaimana sebuah kecelakaan saat atraksi di Lampung berujung pada kondisi fisik yang permanen.

Ironisnya, pihak sirkus baru membawanya ke rumah sakit setelah kondisinya semakin parah dan tak tertahankan. “Pinggang saya mulai bengkak, barulah saya dioperasi di Jakarta,” ujarnya lirih, menyiratkan kekecewaan dan rasa sakit yang mendalam.

Baca Juga :  Prabowo Bawa Pesan Damai dan Keadilan Global, Perkuat Posisi Indonesia di BRICS

Pengakuan demi pengakuan dari para perempuan ini membuka tabir gelap yang selama ini tertutup rapat di balik gemerlap tenda pertunjukan.

Sirkus yang seharusnya menjadi ruang ekspresi seni dan hiburan bagi banyak orang, justru bertransformasi menjadi arena penyiksaan sistematis yang melibatkan perempuan dan bahkan anak-anak. Mereka bukan hanya mempertontonkan keahlian akrobatik, tetapi juga menanggung beban luka fisik dan psikis yang tak terperi.

Kini, setelah bertahun-tahun membisu dalam ketakutan, mereka menuntut keadilan. Mereka berharap pemerintah tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga mengambil tindakan nyata untuk mengusut tuntas dugaan kekerasan dan eksploitasi yang mereka alami. Mereka membawa suara-suara yang selama ini dibungkam oleh cambuk, sengatan listrik, dan rasa takut yang mencekam.

“Ini bukan soal masa lalu. Ini soal luka yang belum sembuh, dan sistem yang belum berubah,” tegas Butet, mewakili harapan para korban lainnya agar keadilan dapat ditegakkan dan kejadian serupa tidak terulang kembali. Kisah pilu ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap pertunjukan yang memukau, terkadang tersembunyi cerita kelam yang menanti untuk diungkap.***