Konflik Kashmir Kembali Berdarah, 26 Orang Tewas di Tengah Upaya Promosi Pariwisata

0
Konflik Kashmir Kembali Berdarah, 26 Orang Tewas di Tengah Upaya Promosi Pariwisata.foto:BBC

NARASITODAY.COM – Suara tembakan memecah keheningan kawasan wisata Pahalgam, Kashmir, India, pada Rabu (23/4/2025), mengubah lanskap indah itu menjadi panggung kengerian.

Sebanyak 26 nyawa melayang dalam sebuah serangan brutal yang tercatat sebagai insiden paling mematikan yang menyasar warga sipil di wilayah yang dilanda konflik berkepanjangan sejak tahun 2000.

Waheed, seorang pemandu wisata lokal, menjadi salah satu saksi mata pertama yang tiba di lokasi kejadian. “Saya tiba setelah mendengar suara tembakan,” ujarnya kepada AFP dengan nada bergetar.

“Saya telah membawa beberapa korban luka dengan menunggang kuda.” Gambaran pilu tentang pria-pria yang tergeletak tak bernyawa di tanah menjadi pemandangan yang tak mungkin dilupakannya.

Kengerian semakin mendalam dengan kesaksian anonim seorang selamat yang mengungkapkan detail mengerikan tentang bagaimana para penyerang bertindak. “Mereka jelas-jelas menyelamatkan wanita,” ungkapnya, menyiratkan bahwa target utama serangan tersebut adalah kaum pria.

Baca Juga :  Geger! Pria Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Rumah Desa Rawa Panjang Bogor

Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai kewarganegaraan para korban, satu sumber keamanan menyebutkan bahwa wisatawan asing termasuk di antara mereka yang menjadi sasaran keganasan ini.

Informasi mengenai jumlah korban tewas pun sempat simpang siur, sebelum akhirnya sumber keamanan dan berbagai media India pada Selasa malam melaporkan angka yang mengerikan: 26 jiwa melayang, bertambah dari informasi awal yang menyebutkan 24 korban.

Hingga kini, belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas aksi keji ini. Namun, bayang-bayang pemberontakan yang telah mencengkeram wilayah mayoritas Muslim ini sejak tahun 1989 kembali menghantui. Aspirasi untuk merdeka atau bergabung dengan Pakistan, yang juga mengklaim wilayah Kashmir, menjadi akar konflik yang tak berujung.

Reaksi keras datang dari Perdana Menteri India, Narendra Modi. Melalui pernyataan resminya, ia mengecam “tindakan keji” yang terjadi di kawasan peristirahatan musim panas Pahalgam. “Para penyerang akan diadili,” tegasnya, menjanjikan keadilan bagi para korban dan keluarga yang ditinggalkan.

Baca Juga :  5 Khasiat Ampuh Kunyit dan Jahe Sebelum Tidur yang Bikin Tubuh Lebih Sehat

Tragedi ini terjadi hanya sehari setelah Modi bertemu dengan Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, di New Delhi. Vance, yang tengah melakukan kunjungan empat hari ke India, menyampaikan belasungkawanya melalui media sosial.

Sementara itu, Presiden Donald Trump, melalui juru bicara kementerian luar negeri India, mendesak Modi untuk segera menawarkan “dukungan penuh kepada India untuk mengadili para pelaku serangan keji ini.”

Luka lama kembali menganga. Serangan ini mengingatkan pada tragedi Pulwama di Februari 2019, di mana seorang pemberontak meledakkan mobil berisi bahan peledak ke konvoi polisi, menewaskan 40 personel dan melukai puluhan lainnya. Kenangan pahit juga tertuju pada Maret 2000, ketika 36 warga sipil meregang nyawa dalam serangan yang terjadi menjelang kunjungan Presiden AS Bill Clinton.

Baca Juga :  Pasukan Keamanan Suriah Menangkap Mantan Kepala Intelijen Angkatan Udara, Perang Saudara Semakin Memanas

Kehadiran sekitar 500.000 tentara India yang ditempatkan secara permanen di wilayah tersebut seolah tak mampu membendung gelombang kekerasan ini. Meskipun sempat mereda pasca pencabutan otonomi terbatas Kashmir oleh pemerintah Modi pada tahun 2019, insiden ini menjadi pengingat betapa rapuhnya perdamaian di wilayah yang kaya akan keindahan alam namun menyimpan bara konflik yang mendalam.

Di tengah duka yang menyelimuti, terbayang pula harapan akan pulihnya pariwisata Kashmir yang sempat menggeliat dengan kedatangan 3,5 juta wisatawan pada tahun 2024. Namun, tragedi ini menjadi pukulan telak, menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan keamanan dan kedamaian di “surga di bumi” yang kini berlumuran air mata.***