NARASITODAY.COM – Di sudut Banda Aceh yang tenang, kisah kelam berbisik lirih dari balik pintu-pintu penginapan dan layar media sosial. Bukan hanya statistik atau angka kasus, tapi kisah nyata tentang anak-anak muda yang jatuh ke jurang “Open BO”praktik pelacuran daring yang kini kian marak karena tekanan ekonomi.
Dalam sebuah video yang viral di media sosial, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, tak kuasa menahan air mata. Ia, yang akrab disapa Bunda Eliza, dengan suara bergetar mengungkapkan kegelisahan hatinya terhadap kondisi masyarakat yang kian terjepit.
“Mungkin mereka juga tidak punya pilihan. Tapi saya bilang, kalau kita yakin pada Allah, mengapa harus alasan ekonomi yang membuat kita jatuh ke situ? Kalau pun meninggal karena mempertahankan iman, itu lebih baik,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca, dalam video yang diunggah akun Instagram @pembasmi.kehaluan.reall, Jumat (25/4/2025).
Bagi Eliza, ini bukan sekadar angka atau pelanggaran norma. Ini tentang manusia, tentang perempuan muda yang kehilangan pegangan di tengah badai hidup. Salah satu momen paling menggetarkan terjadi saat razia sosial yang ia pimpin beberapa waktu lalu.
Di sebuah penginapan di Lambaro Skep, ia dipeluk erat oleh seorang gadis muda, sebut saja namanya “Bunga”, yang terjaring razia dan mengaku sebagai pelaku “Open BO”.
“Saya sangat menyesal, Bu,” bisik Bunga dengan suara tercekat, air mata mengalir deras di pipinya.
Rasa bersalah dan ketakberdayaan bukan hanya milik Bunga. Dalam tiga malam berturut-turut, razia yang dipimpin langsung oleh Wali Kota menyisir titik-titik rawan maksiat, dari penginapan-penginapan kecil hingga kawasan bekas Terminal Keudah, di mana empat pemuda tertangkap sedang berpesta miras. Semua itu adalah cermin dari tekanan sosial, ekonomi, dan spiritual yang menumpuk di bawah permukaan kota yang menerapkan syariat Islam.
Eliza menyadari bahwa ini bukan sekadar urusan moral, melainkan soal keadilan sosial dan ketahanan mental. Karena itu, langkah-langkah tegas tak cukup. Diperlukan juga pendekatan yang lebih lembut pendampingan sosial, pemulihan spiritual, dan upaya menciptakan alternatif ekonomi bagi mereka yang terjerat.
“Ini bukan sekadar razia. Ini tentang menyelamatkan jiwa. Tentang memeluk yang tersesat dan membawa mereka pulang,” kata Eliza dalam sebuah pertemuan usai patroli malam.
Di balik sorotan tajam kamera dan kebijakan pemerintah, ada sisi kemanusiaan yang begitu nyata. Tangis Bunda Eliza bukan sekadar ungkapan emosi, melainkan jeritan nurani seorang pemimpin yang melihat rakyatnya jatuh, namun tetap yakin mereka bisa bangkit. Ia percaya, selama masih ada pelukan, masih ada harapan.***














