Kedelai Melambung, Pengusaha Tahu Tempe di Bogor Tertekan

0
Kedelai Melambung, Pengusaha Tahu Tempe di Bogor Tertekan

NARASITODAY.COM – Di balik kepulan asap dari wajan besar dan aroma khas tahu yang menggoda, kegelisahan tengah membayangi para pengrajin tahu tempe di Desa Girimulya, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Lonjakan harga kacang kedelai yang terus meroket sejak awal Ramadan memaksa belasan pelaku usaha kecil di desa ini menurunkan kapasitas produksi mereka.

Bagi Sohid, salah satu pengusaha tahu lokal yang telah puluhan tahun menggeluti usaha ini, situasi ini tak ubahnya badai kecil yang mengguncang dapurnya. Kenaikan harga bahan baku utama, yakni kacang kedelai, membuat biaya produksi tak lagi seimbang dengan daya beli masyarakat yang semakin melemah.

Baca Juga :  Harga LPG di Pangkalan dan Pengecer Stabil Menjelang April 2026

“Kalau kita mah gatau naiknya karena apa tapi kayanya sih karena dolar yang naik ini jadi faktor harga kedelai terus naik dari awal bulan ramadhan,” ujar Sohid saat ditemui di tempat pengolahan tahunya, Senin (28/4/2025).

Sohid menyebutkan, harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.000 per kilogram, kini nyaris menembus angka Rp10.000.

“Kenaikan ini sudah terjadi sejak bulan ramadhan kemarin tepatnya 2 bulan lalu. Awalnya Rp 8 ribu perkilo sekarang Rp 9.900 perkilo,” ujarnya, sambil menunjukkan tumpukan karung kedelai yang jumlahnya tak lagi sebanyak biasanya.

Baca Juga :  Ketahanan Energi China di Tengah Konflik Timur Tengah, Strategi Jangka Panjang dan Diversifikasi

Kondisi ini bukan hanya dirasakan oleh Sohid seorang. Kepala Desa Girimulya, Wardiman, mengungkapkan bahwa setidaknya ada 15 pengusaha tahu tempe di wilayahnya yang mengalami dampak serupa.

“Kalau pengrajin tahu tempe di Desa kami itu ada 15 pabrik atau pengolahan. Dengan naiknya harga tersebut mungkin imbasnya sama yang dirasakan Sohid,” katanya.

Bagi para pengusaha kecil ini, usaha tahu dan tempe bukan hanya sekadar bisnis, melainkan juga sumber penghidupan puluhan keluarga. Namun kini, mereka harus berhadapan dengan kenyataan pahit harga bahan baku yang melonjak, nilai tukar rupiah yang melemah, serta daya beli konsumen yang kian menurun.

Baca Juga :  Pembunuh Driver Ojek Online di Leuwiliang Ditangkap, Pelaku Remaja Usia 25 Tahun

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, para pengrajin tahu tempe di Girimulya hanya bisa berharap ada jalan keluar dari tekanan ekonomi yang mereka hadapi entah lewat stabilisasi harga kedelai, subsidi bahan baku, atau penguatan peran koperasi desa.***