
NARASITODAY.COM- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti turun langsung ke lapangan menyapa para siswa SDN Leuwibatu 02 dan 03 di Desa Leuwibatu, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jumat (2/5).
Kunjungan ini dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Mulanya rencana Presiden Prabowo dapat hadir dalam kunjungan tersebut.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menegaskan komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, termasuk dari sisi sarana dan prasarana.
“Komitmen Presiden Prabowo adalah agar sekolah-sekolah di Indonesia memenuhi standar sarana dan prasarana yang layak. Ini akan terus dilakukan,” katanya.
Secara khusus, ia menyebutkan bahwa SDN Leuwibatu 02 dan 03 akan dibangun menjadi gedung dua lantai dan akan dilengkapi fasilitas kelas cerdas, perpustakaan, toilet, serta kebutuhan dasar pendidikan lainnya.
Camat Rumpin, Icang Aliudin, yang turut hadir di lokasi, menyampaikan bahwa revitalisasi sekolah tersebut merupakan bagian dari program nasional yang dicanangkan langsung oleh Presiden melalui Bupati Bogor.
“SDN ini masuk prioritas nomor satu. Tidak perlu lagi anggaran dari Pemda, karena ini langsung dari APBN,” ujarnya.
Menurutnya, pembangunan ini juga mencakup infrastruktur jalan yang selama ini menjadi hambatan utama akses pendidikan di Rumpin.
“Kita lihat kondisi poros jalan rusak, jadi kita masukkan ke prioritas. Dalam setahun terakhir kami teliti, ada beberapa sekolah dengan kondisi rusak berat yang perlu segera dibenahi,” bebernya.
Ditempat yang sama Kepala Sekolah SDN Leuwibatu 02 dan 03, Sudrajat, mengungkapkan bahwa pembangunan ini sudah dinantikan selama lebih dari dua dekade. Ia menyebut kondisi sekolah saat ini sudah sangat memprihatinkan.
“Kurang lebih 20 tahun, baru kali ini ada program pembangunan. Anak-anak harus olahraga ke lapangan yang jauhnya puluhan kilometer. Pernah ambruk pada tahun 1990, sekarang rusak berat,” kata Sudrajat.
Ia juga mengapresiasi upaya digitalisasi pendidikan yang dibawa pemerintah, meskipun diakuinya masih butuh waktu untuk beradaptasi.
“Hari ini baru pertama kali diberikan alat digital. Tapi guru-guru, insyaallah siap untuk belajar,” tuturnya.
Dengan jumlah siswa dari dua sekolah itu mencapai 310 anak, ia berharap revitalisasi ini bisa membuka akses pendidikan yang lebih layak dan modern.
Meski menjadi kepala sekolah baru selama dua tahun, Sudrajat mengaku sudah terbiasa dengan tantangan geografis.
“Jarak dari rumah saya ke sekolah ini 40 kilometer. Tapi saya bawa enjoy saja, karena saya memang terbiasa tinggal di pegunungan,” ujarnya sambil tersenyum.
Kata dia, sebagian besar guru di sekolah ini berasal dari wilayah Leuwiliang dan Leuwisadeng, menambah semangat kolektif untuk memperjuangkan pendidikan di pelosok.
“Dengan revitalisasi sekolah dan digitalisasi yang mulai dijalankan, harapan baru tumbuh bagi para siswa SDN Leuwibatu 02 dan 03,” tutupnya.












