Kritik dan Dukungan Mengiringi Rencana Sekolah Khusus Siswa Bermasalah di Jawa Barat

0
Gubernur Dedi Mulyadi

NARASITODAY.COM – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi berencana akan menyiapkan sekolah khusus bagi siswa bermasalah yang selesai menjalani pendidikan karakter di barak militer.

Para siswa tersebut akan dimasukan ke sekolah khusus yang ada di setiap kabupaten dan kota agar tidak kembali terjerumus pada pergaulan negatif.

Rencana tersebut akan digulirkan ketika para pelajar yang selesai mendapatkan pendidikan militer untuk kembali melaksanakan pembelajaran. Namun, dengan dibimbing anggota TNI.

“Saya lagi memikirkan pascanya. Kembalinya ke sekolah khusus yang ada di kabupaten/kota, kelasnya khusus, gurunya khusus dan di bimbing anggota TNI sehingga kedisiplinannya tidak berubah,”kata Dedi seusai menghadiri kegiatan di Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (5/5/2025) malam.

Baca Juga :  Gubernur Jabar dan Wali Kota Bogor Buka Seminar Nasional, Bicara Kepemimpinan Berbasis Nilai

Dedi khawatir, siswa bermasalah tersebut akan kembali ke gaya hidupnya yang lama, bila tidak diawasi dengan baik setelah menjalani pendidikan berkarakter.

Oleh sebab itu, dia akan terus memantau siswa tersebut hingga betul-betul siap kembali ke lingkungannya.

“Kalau mereka ke lingkungannya ikut lagi sama temennya,” katanya.

Selain itu, dia juga mendorong guru dan orangtua untuk mengawasi sosial media siswa atau anak.

Pasalnya, menurut dia, banyak hal negatif yang dapat memengaruhi perilaku siswa maupun anak mulai dari ajakan tawuran, tutorial cara berkelahi hingga jual beli senjata tajam.

Baca Juga :  Cabup Rudy Susmanto Hadiri Konsolidasi dengan Partai Koalisi, Irman Nurcahyan Targetkan 85 Persen Kemenangan di Dapil 6

Misalnya saja, ajakan kepada para siswa untuk mengikuti tawuran yang dilakukan oleh para senior. Bahkan bila siswa menolak, mereka akan dicap “cupu” di lingkungan pergaulannya.

“Kemudian berikutnya adalah pengendalian media sosial. Guru-guru harus sering buka akun anak-anak kita. Itu kelihatan apa fotonya yang terjadi, pasti yang berkelahi bawa celurit,” katanya.

Dia menilai, para siswa bermasalah ini memanfaatkan celah hukum untuk melegalkan perbuatan negatifnya. Mereka yakin tidak sampai akan dipenjara lantaran masih di bawah umur.

“Dibawa kepolisian mau disimpen dimana? Mereka tidak bisa masuk sel karena di bawah umur. Kalau pelakunya ada 100 orang tidak bisa ketampung,” tutur Dedi.

Baca Juga :  Bea Cukai Buka Suara Soal Potensi Kenaikan Tarif Cukai Rokok Tahun Depan

“Kalau ditangkap polisi paling digunduli, jalan jongkok paling balik lagi. Ini kan harus segera diselesaikan. Makanya saya berpikir menyelesaikan ini dengan baik,” tambahnya.

Dedi juga meluruskan, bahwa Resimen Induk Komando Daerah Militer (Rindam) bukan hanya diperuntukkan bagi pendidikan calon TNI saja, tetapi warga sipil pun ada yang dilatih di tempat tersebut.

Rindam bukan barak militer, tapi pusat pelatihan biasa yang diikuti oleh tentara, ASN (Aparat Sipil Negara) dan karyawan perusahaan,” pungkasnya.***