NARASITODAY.COM – Di tengah sorotan tajam atas performa Persija Jakarta yang kian merosot, ada satu suara yang tetap berdiri di belakang tim kesayangannya The Jakmania. Namun kali ini, dukungan mereka tidak datang dengan nyanyian dan koreografi megah di stadion, melainkan dengan keprihatinan yang dalam atas situasi klub yang disebut semakin kehilangan arah.
Belakangan ini, isu penunggakan gaji para pemain Persija merebak luas di media sosial, disuarakan sendiri oleh pemain-pemain yang mulai kehilangan kesabaran. Di waktu yang hampir bersamaan, performa Macan Kemayoran pun ikut anjlok dari tim penantang gelar menjadi pengisi papan tengah.
“Memang masalah finansial yang terjadi ini kan sebenarnya ya bukan tahun ini. Bukan artinya kami melakukan pembenaran, tapi bahwa masalah ini terjadi karena satu alasan tertentu, Persija tidak bisa main di JIS, sudah berapa banyak pertandingan kandang yang tidak main di Jakarta?” ujar Diky Budi Ramadhan, Ketua Umum The Jakmania, kepada wartawan.
Sejak tak bisa memakai Jakarta International Stadium (JIS) sebagai kandang, Persija memang mengalami “krisis rumah”. Bermain di luar kota tanpa penonton loyal membuat atmosfer pertandingan tak lagi sama. The Jakmania pun mengakui rasa lelah emosional dan fisik harus terus berpindah-pindah demi mendukung tim mereka.
“Dan kami pun The Jak merasakan bagaimana capeknya kalau kita main kandang tapi rasa tandang, kita keluar-keluar segala macam dan tanpa penonton. Tapi ya terlepas dari itu bahwa ini masalah fundamental yang harus diperbaiki oleh Persija,” tambah Diky.
Persija yang sempat menempel ketat Persib Bandung di papan atas kini terpaut 15 poin dari sang juara dan terdampar di posisi ke-6 klasemen akhir Liga 1 musim 2024/25. Bukan sekadar statistik yang menurun, tapi juga kepercayaan diri tim dan rasa optimisme suporter ikut terkikis.
Diky tidak menampik, penggajian yang terlalu jor-joran menjadi salah satu sumber masalah Persija. Klub dinilai terlalu ambisius menjanjikan angka besar kepada pemain tanpa perhitungan matang atas kemampuan finansialnya.
“Sebenarnya cara paling mudah memperbaiki menurut kami kan adalah Persija sadar diri saja bahwa Persija itu berapa sih untuk bayar pemain atau menggaji pemain, cocokkan dengan kualitas-kualitas pemain yang ada. Dan bagaimana cara bernegosiasi kepada pemain agar memang pemain itu mau sepakat dengan angka-angka yang ditetapkan oleh Persija itu sendiri. Sesuai dengan kemampuan Persija,” tegas Diky.
Namun di balik segala keluhan dan kekhawatiran, ada secercah harapan. Musim depan, Persija dijadwalkan bisa kembali bermain di JIS secara penuh sebagai tuan rumah. Sebuah harapan baru bukan hanya soal stadion megah, tapi juga sebagai simbol kembalinya identitas dan semangat klub ibu kota.
“Tapi kita sama-sama tahu bahwa Insyaallah musim depan Persija kan main kandang semuanya di JIS. Jadi kalau itu memang sudah dipastikan, seharusnya tidak ada masalah lagi dari sisi finansial. Dan kalau masih ada sisi masalah finansial, berarti memang ada satu masalah besar di Persija yang harus diperbaiki saat ini juga,” tandasnya.***














