Warga Tegalwangi Masih Lestarikan Tradisi Pertanian dan Varietas Padi Lokal

0
Leuit yang ada di Desa tegalwangi, Jasinga, Kabupaten Bogor

NARASITODAY.COM- Warga Desa Tegalwangi, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, hingga kini masih mempertahankan tradisi pertanian leluhur, mulai dari ritual panen (mipit), pelestarian varietas padi lokal jenis Chere, hingga keberadaan lumbung padi atau leuit yang tersebar di delapan RW.

Menurut Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Desa Tegalwangi, Aceng Fikri, masyarakat secara individu masih menyimpan ratusan leuit di sekitar permukiman mereka.

“Dulu kita pernah ada pendataan, kurang lebih di Tegalwangi masih ada 300 lebih leuit,” ujar Aceng saat ditemui di Kantor Desa Tegalwangi, Rabu (14/5/2025).

Baca Juga :  Viral Video MBG Diduga Tak Layak, SPPG dan Sekolah Beri Klarifikasi Berbeda

Varietas padi Chere menjadi salah satu jenis padi unggulan yang masih dibudidayakan oleh warga.

Aceng menyebutkan, terdapat dua jenis Chere yang ditanam, yakni Chere merah dan Chere putih, dengan dominasi Chere putih di kalangan petani.

“Chere itu ada dua jenis, Chere merah dan Chere biasa (putih), tapi kebanyakan yang ditanam Chere biasa,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bupati Bogor Rudy Susmanto Kirim Tim Medis Untuk Misi Kemanusiaan Bantu Korban Bencana Sumatera

Panen raya dilakukan dua kali dalam setahun, dan sebelum memanen, warga masih menjalankan prosesi adat mipit sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi.

“Masih ada, kalau kita bahasanya mipit, itu sebelum ambil padi ada ritual khusus bagi yang bisa,” katanya.

Namun, di tengah semangat pelestarian budaya, masyarakat menghadapi tantangan dalam hal pengairan.

Dia menuturkan bahwa pertanian di desa ini masih bergantung sepenuhnya pada tadah hujan karena tidak adanya saluran irigasi yang memadai.

Baca Juga :  Jangan Sampai Terjebak Ghosting! Simak 5 Cara Menghindarinya

“Tidak memiliki irigasi, melainkan tadah hujan. Jangkauan terlalu jauh dari mata air, sungai Cibeureum,” jelasnya.

Padahal, menurut catatan sejarah dalam Kamus Sunda-Inggris karya Jonathan Rigg tahun 1862, wilayah Jasinga sejak lama dikenal memiliki beragam varietas padi lokal, termasuk Chere Bogor, Angsana, Gadog, Taropong, hingga Gimbal.