Netanyahu Setuju Gencatan Senjata, Hamas Tunggu Jaminan Nyata untuk Akhiri Perang

0
Netanyahu Setuju Gencatan Senjata, Hamas Tunggu Jaminan Nyata untuk Akhiri Perang

NARASITODAY.COM – Upaya diplomatik untuk menghentikan konflik antara Hamas dan Israel kembali menguat seiring dengan dorongan dari Amerika Serikat yang menginginkan perdamaian di kawasan tersebut.

Meski demikian, agresi militer Israel di Jalur Gaza belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan laporan terbaru menyebutkan sedikitnya 59 warga Palestina tewas hanya dalam satu hari akibat serangan tersebut.

Menurut laporan dari Reuters, seorang sumber yang dekat dengan Hamas mengungkapkan bahwa kelompok tersebut sedang mempertimbangkan proposal gencatan senjata baru yang didukung oleh Amerika Serikat.

Namun, Hamas menegaskan bahwa mereka membutuhkan jaminan konkret bahwa kesepakatan tersebut akan mengarah pada penghentian perang secara permanen.

Hamas sedang membahas proposal gencatan senjata ini dengan faksi-faksi Palestina lainnya dan akan menyampaikan responsnya kepada para mediator setelah diskusi itu selesai,” demikian pernyataan resmi Hamas pada Jumat (4/7/2025).

Baca Juga :  Arab Saudi Umumkan Dukungan Dana untuk Palestina, Tegaskan Komitmen terhadap Solusi Dua Negara

Di sisi lain, dua pejabat dari Israel menyampaikan bahwa isi proposal masih dalam tahap pembahasan, namun peluang tercapainya kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera dinilai cukup tinggi. Hal ini terjadi hampir dua tahun setelah konflik antara Israel dan Hamas kembali memanas.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pada hari Selasa bahwa Israel telah setuju terhadap persyaratan dalam proposal gencatan senjata selama 60 hari. Masa tersebut dimaksudkan sebagai jembatan menuju penghentian total perang. Namun, Trump juga menegaskan bahwa implementasi rencana ini masih sangat bergantung pada respons akhir dari pihak Hamas.

Sementara itu, mediator dari Mesir dan Qatar dilaporkan tengah berusaha memastikan dukungan dan jaminan dari Amerika Serikat serta komunitas internasional, agar proses negosiasi tetap berjalan. Seorang pejabat keamanan Mesir mengatakan bahwa jaminan tersebut sangat penting untuk mendorong Hamas menerima kesepakatan dua bulan itu.

Baca Juga :  Irigasi di Jasinga Kering Enam Tahun, Nurodin Jaro Peloy Janji Dorong Tambahan Anggaran

Dari pihak Israel, seorang pejabat senior yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pemerintah Israel siap untuk menerima usulan tersebut.

Sumber lain yang mengikuti perkembangan negosiasi menyebut bahwa Israel menantikan tanggapan resmi dari Hamas pada Jumat, dan jika tanggapannya positif, maka delegasi Israel akan mengikuti pembicaraan tidak langsung guna meresmikan kesepakatan itu.

Adapun isi dari proposal tersebut mencakup beberapa poin penting, di antaranya adalah pembebasan secara bertahap terhadap 10 sandera Israel yang masih hidup, serta pemulangan jenazah 18 sandera lainnya. Sebagai gantinya, Israel akan membebaskan sejumlah tahanan Palestina.

Dari sekitar 50 sandera yang diyakini masih berada di Gaza, diperkirakan hanya sekitar 20 orang yang masih hidup. Selain itu, bantuan kemanusiaan akan segera dikirimkan ke Gaza dan pasukan militer Israel juga direncanakan akan mundur secara bertahap dari sejumlah wilayah di kawasan tersebut. Negosiasi menuju gencatan senjata permanen pun akan dimulai segera setelah kesepakatan ini diberlakukan.

Baca Juga :  Indonesia Kecam Keras Persetujuan Parlemen Israel atas Undang-Undang Hukuman Mati terhadap Palestina

Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyampaikan harapan besar terhadap tercapainya kesepakatan ini. Ia mengatakan, “Kami benar-benar berharap kesepakatan ini akan tercapai, tapi semuanya tergantung pada sejauh mana Hamas bersedia menerima syarat-syarat tersebut.”

Huckabee juga menambahkan, “Satu hal yang pasti: Presiden ingin perang ini berakhir. Perdana Menteri ingin perang ini berakhir. Rakyat Amerika dan rakyat Israel juga menginginkan perang ini segera berakhir.”

Diketahui, Huckabee akan ambil bagian dalam pembicaraan di Gedung Putih pekan depan saat Perdana Menteri Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan Presiden Trump.***