NARASITODAY.COM – Meski harga kakao global mulai menunjukkan penurunan dari rekor tertingginya, konsumen cokelat diperkirakan masih harus menghadapi kenaikan harga pada tahun mendatang. Para analis menilai bahwa penurunan harga bahan baku belum akan langsung berdampak pada harga produk di tingkat ritel.
Dalam beberapa tahun terakhir, harga kakao mengalami lonjakan tajam akibat kombinasi cuaca ekstrem, serangan hama, dan terbatasnya pasokan dari Afrika Barat wilayah yang menyuplai sekitar 75% kebutuhan kakao dunia. Inflasi global turut memperburuk situasi, mendorong harga makanan ringan, termasuk cokelat, ke level yang lebih tinggi.
Inflasi Cokelat di Pasar Global
Survei dari Which? di Inggris mencatat bahwa produk cokelat mengalami inflasi tertinggi di supermarket sepanjang 2024, yakni sebesar 11% per tahun. Sementara itu, di Amerika Serikat, harga permen cokelat Hershey’s Kisses meningkat sekitar 12% secara tahunan.
CEO Lindt & Sprüngli, Adalbert Lechner, menyampaikan pandangan pesimistis soal harga kakao. “Harga kakao tidak akan turun ke titik lama,” ujarnya seperti dikutip dari CNBC International, Sabtu (23/8/2025).
Harga Kakao Turun, Tapi Belum Lega
Data menunjukkan bahwa harga berjangka kakao telah turun dari US$8.177 per ton metrik pada Januari 2025 menjadi sekitar US$7.855 di bulan Agustus. Meski demikian, angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan harga tiga tahun lalu yang hanya US$2.374 per ton.
Tracey Allen, ahli strategi komoditas pertanian dari J.P. Morgan, menjelaskan bahwa penurunan harga belum akan langsung dirasakan oleh konsumen. “Defisit pasokan masih berlanjut, sehingga harga tinggi bertahan lebih lama,” katanya.
Lydia Toth dari asosiasi produsen cokelat Swiss, Chocosuisse, menambahkan bahwa lonjakan harga kakao hingga empat kali lipat dalam dua tahun terakhir telah menekan margin produsen. “Sebagian kenaikan biaya memang sudah dialihkan ke konsumen, tetapi penyesuaian harga lebih lanjut masih mungkin terjadi. Kembali ke harga lama tampaknya sulit,” jelasnya.
Harapan Baru dan Tantangan Lama
Meski tekanan harga masih terasa, ada harapan bahwa musim Paskah mendatang akan membawa perbaikan pasokan. J.P. Morgan memprediksi cuaca yang lebih bersahabat serta panen baru dari Ekuador dan Brasil akan membantu menstabilkan pasokan, meski harga kakao diperkirakan tetap tinggi di kisaran US$6.000 per ton.
Namun, tantangan jangka panjang tetap membayangi. Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas dari Capital Economics, menyoroti masalah produktivitas di Pantai Gading dan Ghana sebagai faktor utama ketatnya pasokan global. “Harga kakao akan bertahan di level historis yang tinggi, dan itu berarti harga coklat juga ikut mahal,” katanya.
Selain itu, faktor eksternal seperti kenaikan upah minimum di Inggris dan tarif perdagangan di Amerika Serikat turut memperbesar tekanan harga. Menurut Hussain, konsumen masih harus bersiap menghadapi harga cokelat yang mahal dalam waktu yang cukup lama.****
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














