Industri Alas Kaki Indonesia Siap Manfaatkan Kesepakatan IEU-CEPA untuk Tembus Pasar Benua Biru

0
IEU-CEPA
Ilustrasi Berbagai alas kaki dengan susunan abstrak di atas karpet.(Foto : Istock)

NARASITODAY.COM – Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa resmi menyelesaikan tahap perundingan untuk perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif bertajuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Salah satu poin utama dalam kesepakatan ini adalah pembebasan tarif bea masuk bagi sejumlah barang dan komoditas asal Indonesia ke 27 negara anggota Uni Eropa.

Sektor industri alas kaki menjadi salah satu yang paling antusias menyambut kabar ini. IEU-CEPA dinilai sebagai peluang strategis untuk mendorong ekspor sepatu Indonesia, terutama di tengah tekanan akibat tarif impor sebesar 19% yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap produk asal Indonesia.

Momentum Natal dan Tahun Baru Jadi Harapan Baru Ekspor

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Yoseph Billie Dosiwoda, menyebut bahwa momen Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 bisa menjadi titik loncatan ekspor sepatu nasional.

Baca Juga :  Sekda Ajat Minta Jajarannya Aktif Sosialisasikan Program Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Tahun 2024

“Di momen-momen ini, dengan IEU-CEPA berlaku, bea masuk sepatu/alas kaki Indonesia akan bebas alias nol persen. Sehingga akan mendorong peningkatan ekspor ke kawasan tersebut,” ujarnya, Kamis (4/9/2025).

Data Ekspor dan Dampak Tarif AS

Aprisindo mencatat nilai ekspor alas kaki Indonesia sepanjang 2024 mencapai US$7,08 miliar. Dari jumlah tersebut, ekspor ke AS menyumbang US$2,39 miliar, sementara ke Uni Eropa sebesar US$1,72 miliar. Ekspor ke China tercatat US$594,41 juta, turun dari US$692,04 juta pada 2023.

“Amerika merupakan pasar terbesar bagi ekspor alas kaki Indonesia. Bagi industri padat karya alas kaki, tarif AS 19% yang sudah berjalan per Agustus memberikan dampak pukulan yang cukup berat. Pasar di dalam negeri AS dengan daya beli masyarakat menurun karena kenaikan bea masuk,” jelas Billie.

Baca Juga :  Uni Eropa dan Negara-Negara Dunia Siapkan Senjata Darurat Redam Lonjakan Harga Energi

Harapan dan Dukungan Regulasi Domestik

Billie berharap proses finalisasi IEU-CEPA bisa rampung sesuai jadwal pada September 2025. “Aprisindo berharap kepada Presiden dan Kementerian Koordinator Ekonomi untuk berkomitmen dalam melakukan lobby perundingan dalam mewujudkan keberhasilan IEU-CEPA di bulan ini,” katanya.

Namun, ia juga menekankan bahwa perluasan pasar ekspor membutuhkan dukungan dari dalam negeri, termasuk penyederhanaan regulasi. “Salah satunya yang amat penting adalah kemudahan ekspor dengan menghapus PPn Subcont biaya tambahan dan impor memperoleh bahan baku, berbagai proses perizinan dengan syarat administrasi dan teknis yang memudahkan, intensif fiskal seperti diskon harga gas dan listrik dan jaminan penegakan hukum (law enforcement) keamanan dalam menyelenggarakan industri,” papar Billie.

Baca Juga :  Akhir Tahun di Bogor? 5 Tempat Glamping dengan View Alam Terbaik untuk Liburan Keluarga

Penandatanganan Dijadwalkan September

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan European Union Commissioner for Trade and Economic Security Maroš Šefčovič telah menandatangani exchange letter sebagai pedoman percepatan penyelesaian IEU-CEPA. Penandatanganan ini dilakukan usai pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di Brussel, 13 Juli 2025.

Airlangga menyatakan bahwa dokumen final akan segera dirampungkan dan ditandatangani oleh Šefčovič. “Saya telah berbicara dengan Komisaris Maroš Šefčovič dan beliau berencana datang ke Jakarta pada bulan September untuk menandatangani dokumen tersebut,” ujarnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com