NARASITODAY.COM, BANDUNG – Masyarakat Jawa Barat, khususnya di wilayah Bandung dan sekitarnya, telah lama mengenal keberadaan Sesar Lembang patahan geologi aktif yang membentang sepanjang hampir 29 kilometer dari Padalarang hingga Cimenyan. Terletak di kaki Gunung Tangkuban Parahu, sesar ini bukan sekadar garis pada peta, melainkan struktur geologi yang menunjukkan aktivitas nyata di lapangan.
Menurut Mudrik R. Daryono, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang fokus pada geologi gempa bumi, Sesar Lembang merupakan jalur patahan besar di kerak bumi yang memicu pergeseran batuan secara mendatar.
“Bukti nyata bisa dilihat dari pergeseran Sungai Cimeta yang telah bergeser sejauh 120 meter, bahkan di beberapa lokasi mencapai 460 meter,” ungkap Mudrik dalam pernyataan tertulisnya, Minggu (7/9/2025).
Selain pergeseran horizontal, terdapat pula perubahan elevasi tanah. Di segmen barat sesar, antara kilometer 0 hingga 6, permukaan tanah relatif datar. Namun, selanjutnya terjadi kenaikan hingga 90 meter sebelum kembali menurun ke arah timur.
“Secara keseluruhan, pergeseran di Sesar Lembang hampir seluruhnya didominasi oleh pergeseran mendatar, yaitu sekitar 80 sampai 100%. Sedangkan pergeseran naik-turun hanya sekitar 0 sampai 20%,” jelasnya.

Perubahan bentuk sungai dan kontur tanah ini merupakan hasil dari proses geologi yang berlangsung perlahan selama ratusan ribu tahun. Aktivitas sesar tersebut berkontribusi terhadap potensi gempa bumi di wilayah tersebut.
Penelitian terkini menunjukkan bahwa Sesar Lembang bergerak dengan kecepatan antara 1,9 hingga 3,4 milimeter per tahun. Walau tampak kecil, akumulasi pergeseran ini dalam jangka panjang dapat memicu gempa bumi signifikan.
“Hal ini terbukti dari hasil penelitian paleoseismologi melalui penggalian parit di kilometer 11,5, yang menemukan adanya pergeseran setinggi 40 sentimeter. Di mana, bagian selatan sesar terangkat dibanding sisi utara. Pergeseran sebesar itu menjadi bukti nyata bahwa di masa lalu pernah terjadi gempa dengan kekuatan sekitar magnitudo 6,5 hingga 7,” terang Mudrik.
Ia menambahkan, “Perkiraan ini juga sejalan dengan panjang Sesar Lembang yang mencapai 29 kilometer, yang memang berpotensi menghasilkan gempa dengan besaran tersebut.”
Kajian paleoseismologi juga mengungkap bahwa Sesar Lembang telah beberapa kali memicu gempa besar. Peristiwa paling muda diperkirakan terjadi pada abad ke-15, sementara jejak gempa lainnya ditemukan sekitar 60 tahun sebelum Masehi dan bahkan hingga 19 ribu tahun lalu. Berdasarkan data tersebut, para ahli memperkirakan siklus gempa besar di sesar ini terjadi setiap 170 hingga 670 tahun.
“Jika mengacu pada siklus ulang gempa besar yang telah diperkirakan, maka secara teoritis gempa besar berikutnya dapat terjadi paling lambat sekitar tahun 2170. Artinya, secara waktu, perkiraan, siklus ini sudah relatif dekat dengan masa sekarang,” sebut Mudrik.
Meski demikian, ia menekankan bahwa prediksi tersebut bukanlah kepastian, melainkan estimasi berdasarkan pola historis. “Pemahaman ilmiah ini sangat penting agar masyarakat lebih siap dan senantiasa waspada dalam menghadapi potensi bencana,” tegasnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













