NARASITODAY.COM, BEIJING — Di tengah meningkatnya angka pengangguran di kalangan muda China, muncul tren unik yang kini ramai diperbincangkan “berpura-pura bekerja”.
Fenomena ini melibatkan anak muda yang tidak memiliki pekerjaan tetap namun tetap menjalani rutinitas layaknya profesional, seperti mengenakan pakaian rapi dan bekerja di kafe atau perpustakaan dengan laptop.
Salah satu pelaku tren ini adalah Xiao Ding, perempuan berusia 30 tahun yang sebelumnya bekerja di bidang pemasaran perusahaan teknologi. Setelah kehilangan pekerjaan pada 2023, ia telah menganggur hampir dua tahun.
“Rutinitas pura-pura kerja bukan sekadar membodohi diri sendiri,” ujarnya kepada CNA, Sabtu (20/9/2025). Menurut Xiao, ada dua alasan utama: menjaga aktivitas harian dan memaksa diri agar “terlihat bekerja.”
Fenomena serupa juga dialami Yuan, remaja berusia 19 tahun yang setiap pagi tiba pukul 9 untuk mengurus bisnis kecilnya menjual anak kucing dan anjing melalui aplikasi Douyin. “Rutinitas di sini jelas lebih baik dibandingkan di rumah,” katanya. “Kalau di rumah saya akan jadi malas.”
Data resmi menunjukkan tingkat pengangguran pemuda usia 16–24 tahun di kawasan perkotaan China (tidak termasuk pelajar) mencapai 17,8 persen per Juli 2025. Sementara itu, jumlah lulusan universitas terus meningkat, namun lapangan kerja tetap terbatas.
Menanggapi tren ini, sejumlah usaha mulai menyediakan ruang kerja simulasi, seperti Pretend To Work Unlimited Company di Hangzhou. Dengan tarif mulai dari 30 yuan (sekitar Rp67.000), pengguna bisa menyewa meja kerja, absen pukul 9 pagi, dan bahkan menggunakan kartu identitas perusahaan. Fasilitas yang disediakan meliputi ruang rapat, printer, internet, dan perlengkapan kantor lainnya.
Ruang kerja ini menerapkan aturan ketat: tidak tidur, tidak bermain gim, dan tidak membuat keributan. Tujuannya adalah menjaga suasana profesional agar pengguna tetap merasa produktif.
Bagi banyak orang, keberadaan ruang semacam ini bukan hanya soal penampilan, tetapi juga cara untuk menjaga ritme hidup dan membangun kembali rasa percaya diri di tengah masa sulit.
Para ahli menilai bahwa berpura-pura bekerja merupakan bentuk adaptasi terhadap tekanan ekonomi dan budaya kerja keras yang sangat kuat di China. Identitas sosial seseorang sangat terkait dengan status pekerjaan, sehingga ketika peluang kerja sulit didapat, banyak yang berusaha mempertahankan citra tersebut melalui simbol-simbol aktivitas profesional.
Rutinitas ini juga dianggap membantu menjaga kesehatan mental, memberikan struktur harian, dan mengurangi rasa kehilangan arah. Rasa kebersamaan dan “tidak sendirian” menjadi nilai penting dari ruang-ruang kerja tiruan ini.
Fenomena ini mencerminkan ketegangan antara harapan sosial terutama dari keluarga dan kenyataan di pasar kerja. Banyak orang tua masih memandang pekerjaan tetap di perusahaan milik negara sebagai tolok ukur kesuksesan, sementara profesi baru seperti freelancer, influencer, atau pelaku usaha rintisan sering kali dianggap kurang serius.
“Pura-pura kerja” bukan sekadar tren viral atau candaan generasi muda. Ia mencerminkan respons nyata terhadap tekanan sosial, ketidakpastian ekonomi, dan kebutuhan psikologis untuk tetap merasa berguna di tengah tantangan hidup.
Meski tidak menyelesaikan masalah pengangguran secara langsung, fenomena ini menunjukkan bahwa anak muda China berusaha mencari cara alternatif untuk menjaga martabat, harapan, dan rutinitas di tengah situasi yang serba sulit.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














