Scaloni Minta Argentina Tak Hanya Andalkan Mental Saat Hadapi Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026

0
Argentina
Pelatih Albiceleste, Lionel Scaloni.Foto : Christopher Neundorf/EPA

NARASITODAY.COM, ATLANTA – Tim nasional Argentina bersiap menghadapi laga krusial dalam misi mereka mempertahankan takhta tertinggi sepak bola. Pelatih Albiceleste, Lionel Scaloni, menegaskan bahwa timnya tidak bisa hanya mengandalkan determinasi dan semangat juang yang berapi-api saat bersua Inggris pada laga semifinal Piala Dunia di Atlanta, Rabu (15/7/2026).

Bagi publik Argentina, sepak bola bukan sekadar taktik, melainkan perpaduan antara denyut nadi dan keindahan seni mengolah bola di atas lapangan hijau. Menghadapi barisan penyerang The Three Lions yang tengah on-fire, Scaloni meminta anak asuhnya untuk merebut kendali permainan dan memainkan sepak bola terbaik mereka.

Meredam Amunisi Mematikan Tiga Singa

Langkah sang juara bertahan menuju babak empat besar tahun ini dipenuhi kerikil tajam. Meski megabintang Lionel Messi telah menyumbang delapan gol sepanjang turnamen, Argentina harus memeras keringat lebih dalam saat mendepak Tanjung Verde, Mesir, dan Swiss di fase gugur. Ujian berikutnya dipastikan jauh lebih berat. Inggris datang dengan ancaman nyata melalui duet mematikan Harry Kane dan Jude Bellingham.

Baca Juga :  Prestasi Membanggakan! Syabil Umar Basalamah Raih Dua Trofi Champions of the Future

Scaloni menaruh hormat tinggi pada dua pilar lini serang Inggris tersebut, namun ia memastikan pasukannya sudah mengantongi formula untuk menjinakkan mereka.

“Mereka adalah dua pemain hebat, termasuk yang terbaik di dunia. Semua pelatih tentu ingin memiliki pemain seperti mereka,” kata Scaloni mengenai Kane dan Bellingham dalam konferensi pers, Selasa (14/7/2026). “Kami akan berusaha meredam mereka dengan kekuatan yang kami miliki dan mencegah mereka tampil maksimal. Kami sudah memiliki rencana permainan dan berharap bisa menjalankannya besok.”

Bagi pelatih berusia 48 tahun ini, kunci kemenangan tidak hanya terletak pada pertahanan yang rapat, melainkan keberanian untuk mendikte jalannya laga melalui penguasaan bola yang menjadi DNA asli sepak bola Argentina.

“Keinginan dan ambisi kami sangat besar. Tetapi kami harus bermain sepak bola, menguasai bola, karena di situlah kekuatan terbesar kami selama ini,” tegas Scaloni. “Kami membutuhkan para pemain, terutama mereka yang selama ini membuat kami memainkan sepak bola yang indah, untuk menunjukkan kualitasnya besok.”

Baca Juga :  Jerman dan Belanda Pastikan Tiket ke Piala Dunia 2026, Genapkan 34 Tim Lolos

Kematangan Mental dari Pengalaman Panjang

Di bawah asuhan Scaloni sejak tahun 2018, ruang ganti Argentina telah menjelma menjadi kelompok yang kenyang pengalaman di panggung-panggung tertinggi. Dua semifinal Piala Dunia dan tiga semifinal Copa America menjadi bukti sahih kematangan mental Albiceleste. Pengalaman kolektif inilah yang menjadi modal berharga bagi Messi dan kawan-kawan untuk tetap tenang di bawah guyuran tekanan atmosfer semifinal.

“Kami memiliki sedikit pengalaman bermain di laga seperti ini. Memang itu bukan keuntungan mutlak, tetapi setidaknya membuat kami lebih tenang menghadapi pertandingan. Ketenangan itu kami peroleh dari pengalaman,” ungkap Scaloni.

Ia juga memastikan bahwa seluruh penggawa tim berada dalam kondisi bugar dan memiliki frekuensi emosi yang sama untuk memberikan pembuktian di lapangan.

“Kami merasa senang, antusias, bersemangat, dan ingin merayakannya bersama masyarakat kami. Kami ingin memberikan kebahagiaan kepada mereka dengan melihat tim nasional bermain sepenuh hati,” ujarnya, sembari menambahkan, “Lawan kami juga tim yang hebat. Tidak ada yang akan mudah dan tidak ada yang diberikan begitu saja. Kami akan berusaha mencapai final dan menikmati pertandingan.”

Baca Juga :  Jerman Hadapi Pantai Gading di Piala Dunia 2026, Koleksi Gol Terbanyak Die Mannschaft diulas

Menepis Bayang-Bayang Sejarah Masa Lalu

Pertemuan antara Argentina dan Inggris hampir selalu memicu romansa persaingan yang panas, kerap kali menyeret memori kolektif Perang Falklands atau Malvinas yang meletus pada tahun 1982 silam. Namun, dengan tegas Scaloni meminta agar laga di Atlanta ini dipandang secara murni melalui kacamata olahraga, tanpa embel-embel ketegangan geopolitik masa lalu.

“Sejujurnya ini adalah pertandingan sepak bola. Saya tidak bisa mencampuradukkan kedua hal tersebut, terutama sebagai bentuk penghormatan terhadap apa yang terjadi bertahun-tahun lalu,” ucap Scaloni dengan nada serius.

Bagi Scaloni, lembaran kelam sejarah biarlah berada di tempatnya, sementara di atas rumput hijau Atlanta, fokus penuh hanya tertuju pada 90 menit perebutan tiket menuju partai puncak dunia.

“Itu adalah periode yang sangat menyedihkan dalam sejarah kami. Tidak banyak yang bisa kami lakukan mengenai hal tersebut. Yang pasti, pertandingan ini hanyalah pertandingan sepak bola, tidak lebih dari itu,” pungkasnya.***

Editor : Alysa

Sumber : kontan.co.id