NARASITODAY.COM – Gelombang kecaman terhadap Israel atas dugaan genosida di Palestina kini merambah dunia olahraga. Setelah lama dianggap bungkam, sejumlah tokoh dan organisasi olahraga mulai angkat suara, menyusul agresi berkepanjangan Israel ke Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan.
Serangan yang semakin intens sejak 2023, termasuk pelanggaran gencatan senjata yang sempat tercapai Januari lalu, telah menewaskan hampir 20 ribu orang sejak Maret. Akses bantuan yang diblokade turut memperparah krisis kemanusiaan di Gaza, yang kini dilanda kelaparan.
Meski konflik telah berlangsung hampir dua tahun, lembaga olahraga internasional seperti Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan FIFA dinilai masih belum mengambil sikap tegas. Israel tetap diizinkan berpartisipasi dalam berbagai ajang internasional, termasuk kualifikasi Piala Dunia 2026.
Sikap ini memicu kritik tajam karena dianggap menerapkan standar ganda. FIFA dan IOC sebelumnya membekukan Rusia dari berbagai kompetisi hanya empat hari setelah invasi ke Ukraina pada 2022.
“Sekarang sudah 716 hari, yang menurut Amnesty Internasional menyebut ini genosida, namun Israel tetap diizinkan berpartisipasi. Mengapa? Mengapa standar ganda?” ujar Eric Cantona dalam acara Together for Palestine.
Legenda sepakbola Inggris, Gary Lineker, juga turut mengecam Israel meski baru saja diberhentikan dari BBC karena sikap politisnya. Sementara itu, Timnas Spanyol dikabarkan siap mundur dari Piala Dunia 2026 jika Israel tetap lolos. Lamine Yamal dan rekan-rekannya disebut mendukung langkah tersebut sebagai bentuk solidaritas.
FIFA sendiri telah menerima tekanan dalam kongres tahunan, namun hanya merespons secara normatif dengan menyatakan akan meninjau lebih lanjut tanpa keputusan konkret.
Boikot Meluas ke Cabang Olahraga Lain
Tak hanya sepakbola, cabang olahraga lain mulai menunjukkan penolakan terhadap kehadiran Israel. Tim basket Irlandia memutuskan mundur dari kualifikasi kejuaraan Eropa yang dijadwalkan November mendatang. “Menghadapi Israel dalam situasi ini bukan skenario yang kami harapkan,” kata Chief Executive John Feehan.
Di Spanyol, ajang balap sepeda Vuelta a España juga menjadi sasaran protes besar-besaran dari masyarakat pro-Palestina. Demonstran memboikot etape balapan dan mengganggu jalannya acara sebagai bentuk penolakan terhadap tim Israel. Aksi tersebut mendapat dukungan langsung dari Perdana Menteri Pedro Sanchez.
Dari dunia catur, klub The Sestao Chess Club di Basque menolak kehadiran pemain Israel, menyebabkan tujuh atlet mundur dari kompetisi. Sementara itu, pembalap Formula 1 Lewis Hamilton turut bersuara melalui media sosial, mengecam tindakan Israel dan mendesak agar akses bantuan kemanusiaan dibuka. Ia menekankan pentingnya mencegah anak-anak Gaza dari kelaparan.
Dengan semakin masifnya seruan boikot dari berbagai cabang olahraga dan tokoh dunia, tekanan terhadap lembaga-lembaga internasional untuk mengambil sikap tegas terhadap Israel semakin menguat.
Pertanyaannya kini: akankah dunia olahraga benar-benar menjadi arena baru untuk menuntut keadilan bagi Palestina?***
Editor : Alysa













