
NARASITODAY.COM, SIDOARJO – Insiden runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9/2025) menarik perhatian media asing. Proses evakuasi yang penuh tantangan dan berlangsung dramatis menjadi sorotan utama, terutama karena masih banyak anak yang diyakini terperangkap di bawah reruntuhan.
Kantor berita Prancis, AFP, melaporkan bahwa tim penyelamat berhasil mengevakuasi lima korban selamat dari puing-puing bangunan pada Rabu (1/10/2025), di tengah kepanikan para orang tua yang mendesak percepatan pencarian.
“Hari ini kami berhasil mengevakuasi tujuh korban, lima di antaranya diselamatkan hidup-hidup, dan dua ditemukan tewas,” ujar Yudhi Bramantyo, Direktur Operasional Layanan SAR, dalam konferensi pers di lokasi kejadian.
Evakuasi Penuh Risiko dan Teknologi Canggih
Operasi penyelamatan dinilai sangat kompleks. AFP mengutip Kepala Badan SAR Nasional, Mohammad Syafii, yang menjelaskan bahwa aktivitas di sekitar lokasi dapat menimbulkan getaran yang berisiko mengganggu stabilitas reruntuhan.
“Jika terjadi getaran di satu tempat, hal itu dapat memoengaruhi tempat lain. Jadi sekarang, untuk mencapai lokasi korban, kami harus menggali terowongan bawah tanah,” katanya.
Penggalian tersebut menghadapi berbagai kendala, termasuk potensi tanah longsor dan sempitnya akses yang hanya selebar 60 sentimeter akibat struktur beton bangunan. Untuk mempercepat pencarian, tim SAR mengandalkan teknologi seperti drone pendeteksi panas guna menemukan korban selamat maupun yang telah meninggal.
Dengan batas waktu “masa emas” 72 jam semakin mendekat, tanda-tanda kehidupan telah terdeteksi di tujuh titik. Air dan makanan telah dikirimkan ke lokasi tersebut, meski hanya bisa diakses melalui satu jalur sempit.
Gempa dan Dukungan Sosial
Upaya pencarian sempat terhenti sementara akibat gempa bumi yang terjadi di lepas pantai pada malam sebelumnya, menambah tantangan bagi tim penyelamat. Di sekitar lokasi, sejumlah organisasi amal lokal mendirikan pos bantuan yang menyediakan makanan dan minuman bagi keluarga korban yang menunggu dengan penuh harap.
AFP juga melaporkan bahwa dampak keruntuhan bangunan begitu besar hingga menimbulkan getaran yang dirasakan warga sekitar. Menurut juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Nasional, bangunan pesantren ambruk akibat kegagalan struktur fondasi dalam menopang konstruksi tambahan di lantai empat.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber












