
NARASITODAY.COM – Tiga negara tetangga Indonesia mengalami dampak dahsyat dari Topan Super Ragasa yang melanda kawasan Asia Timur dan Pasifik Barat Laut. Badai tersebut menyebabkan evakuasi besar-besaran, kerusakan infrastruktur, dan jatuhnya korban jiwa di China, Taiwan, dan Filipina.
China: Evakuasi Dua Juta Warga dan Kerusakan Meluas
Topan Super Ragasa memaksa hampir dua juta warga di China Selatan untuk mengungsi pada Rabu, sementara pusat keuangan Hong Kong lumpuh akibat badai. Menurut AFP, ratusan ribu orang di Provinsi Guangdong mulai membersihkan puing-puing setelah angin kencang merobohkan pohon, pagar, dan rambu-rambu bangunan.
Badai menghantam Guangdong dengan kecepatan angin mencapai 145 km/jam. Di kota Yangjiang, pohon tumbang dan puing-puing berserakan di jalanan. Meski topan mulai melemah, hujan ringan dan angin masih terasa saat warga membersihkan kerusakan.
Di Pulau Hailing, petugas bantuan berjuang menyingkirkan pohon tumbang dan reruntuhan. Sebuah restoran makanan laut mengalami kerusakan parah. “Anginnya sangat kencang, Anda bisa melihatnya menghancurkan semuanya,” ujar Lin Xiaobing, seorang pekerja restoran berusia 50 tahun.
Ia menambahkan, “Tidak ada listrik (di rumah)… Saat ini, beberapa rumah masih memiliki listrik dan yang lainnya tidak.”
Pulau tersebut dikenal sebagai destinasi wisata, dan banyak penduduk menggantungkan hidup pada sektor pariwisata. “Saya ada di dalam (ketika topan datang), saya tidak berani keluar,” kata Zeng Jitan. “Badai itu sangat kuat. Saya takut semuanya akan hancur.”
Di Hong Kong, otoritas melaporkan 101 orang dirawat di rumah sakit dan lebih dari 900 orang mengungsi ke 50 tempat penampungan. Ratusan pohon tumbang dan banjir melanda permukiman. Gedung-gedung tinggi bergoyang diterpa angin kencang.
“Sekitar 1.000 penerbangan terdampak oleh Ragasa,” ungkap otoritas bandara, seraya berharap operasional kembali normal dalam dua hari. Peringatan topan tertinggi berlaku selama 10 jam 40 menit, menjadi yang terlama kedua dalam sejarah kota tersebut. Badan Meteorologi Hong Kong menyebut Ragasa sebagai badai terkuat di Pasifik barat laut tahun ini.
Taiwan: Danau Jebol, 14 Tewas dan Ribuan Mengungsi
Di Taiwan, Topan Ragasa menyebabkan jebolnya danau di Hualien, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai puluhan lainnya. Jumlah korban tewas sempat direvisi dari 17 setelah ditemukan duplikasi data. “Dua puluh dua orang masih hilang pada Kamis sore,” kata pihak berwenang.
Banjir besar menghanyutkan jembatan dan melumpuhkan kota Guangfu. Lumpur tebal menutupi jalanan, mobil dan skuter rusak menumpuk, dan perabotan berserakan. “Hampir semuanya hancur… tiga unit pendingin, dua kios, mesin, oven, bahkan kulkas rumah tangga,” ujar Chuan Kun-jui, tukang daging lokal.
Sekitar 3.285 orang dievakuasi dan 1.200 orang tinggal di tempat penampungan. Di sebuah gereja, warga antre untuk makan siang. “Ini malam kedua kami di sini. Nyaman atau tidak… aman saja sudah cukup,” kata Kaniw ‧ Looh, penatua gereja berusia 64 tahun.
“Ketinggian air di danau telah turun drastis setelah kehilangan sekitar tiga perempat airnya akibat luapan air,” jelas Badan Pemadam Kebakaran Nasional. Lebih dari 4.000 warga kehilangan akses air bersih.
“Seluruh kota masih kekurangan air, kami bertahan hidup dengan air hujan dan air minum kemasan,” kata Shih Hui-mei, relawan bantuan. Maggie Huang, pengelola bisnis pariwisata, mengungkapkan, “Tidak ada air sama sekali.” Ia dan keluarganya terpaksa tidur di gereja sambil menunggu kabar rumah dan mobil mereka. “Ini rumah kami. Ke mana lagi kami bisa pergi?” ujarnya.
Filipina: Delapan Tewas dan Penutupan Massal
Filipina menjadi negara pertama yang dilanda Topan Ragasa pada Senin. Kecepatan angin mencapai 205 km/jam dengan hembusan hingga 250 km/jam. Pemerintah menutup kantor dan sekolah di Metro Manila serta 29 provinsi lainnya.
“Para pejabat setempat tidak boleh membuang waktu untuk mengevakuasi keluarga dari zona bahaya,” tegas Menteri Dalam Negeri Jonvic Remulla.
Filipina, yang berada di jalur siklon Pasifik, rata-rata menghadapi 20 badai setiap tahun. Para ilmuwan memperingatkan bahwa badai semakin kuat akibat pemanasan global dan perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













