Direktur IMF Tegaskan Komitmen G20 Tangani Utang Negara Berkembang

0
G20
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva. Foto : kepriprov.go.id

NARASITODAY.COM, WASHINGTONDirektur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, menegaskan komitmen lembaganya untuk terus mendorong negara-negara anggota Kelompok 20 (G20) agar lebih serius menangani persoalan utang yang membebani negara-negara berkembang. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Washington pada Senin (13/10/2025).

Georgieva menyampaikan bahwa meskipun dampak tarif dari Amerika Serikat tidak sebesar yang diperkirakan, ketidakpastian ekonomi global tetap tinggi. “Pertumbuhan lambat, utang tinggi, dan risiko perlambatan keuangan cukup permanen. Risiko itu ada,” ujarnya. Ia menekankan perlunya fokus yang lebih besar dari negara-negara untuk menurunkan tingkat utang.

Baca Juga :  Performa Empat Pemain Barcelona yang Dipinjamkan: Analisis Hasil Masing-Masing

Dalam pernyataan sebelumnya, Georgieva mengungkapkan bahwa utang publik global diperkirakan akan melampaui 100% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia pada tahun 2029, sebuah tren yang disebutnya sebagai tantangan serius bagi pembuat kebijakan.

IMF, menurut Georgieva, saat ini bekerja sama erat dengan Bank Dunia untuk membantu negara-negara yang menghadapi masalah likuiditas meskipun utangnya belum tergolong tidak berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa isu utang akan tetap menjadi fokus utama dalam forum G20. “Anda akan melihat kami terus terlibat dengan G20,” katanya. “Kami ingin hal ini menjadi perhatian utama … Tolong, ini prioritas”.

Baca Juga :  Serunya Menjelajah 5 Safari Terbaik di Dunia, Plus Tips Melihat Satwa Eksotis

Afrika Selatan, yang saat ini memegang presidensi G20, telah menjadikan keberlanjutan utang sebagai salah satu pilar utama kepemimpinannya. Namun, Amerika Serikat yang akan mengambil alih posisi tersebut pada Desember mendatang, belum menunjukkan komitmen yang kuat terhadap isu ini.

Georgieva juga menyoroti pentingnya strategi keluar dari krisis utang, termasuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan akses terhadap teknologi. Ia mengingatkan bahwa negara-negara berkembang, yang sudah terbebani oleh utang tinggi, kini menghadapi tekanan tambahan akibat tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Rotasi 14 Pejabat untuk Tingkatkan Kinerja Pemerintahan

Bank Dunia sebelumnya melaporkan bahwa sekitar separuh dari 150 negara berkembang saat ini tidak mampu membayar utang atau berisiko gagal bayar. Sementara itu, data dari Institute of International Finance menunjukkan bahwa total utang di pasar negara berkembang melonjak sebesar US$ 3,4 triliun pada kuartal kedua, mencapai rekor lebih dari US$ 109 triliun.

Georgieva menutup pernyataannya dengan seruan agar para pemimpin dunia tidak mengabaikan ancaman ini. “Kami ingin dunia menyadari bahwa utang bukan hanya angka, tapi beban nyata yang menghambat pembangunan,” tegasnya.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber