Pejabat Senior China Wang Huning Tegaskan Reunifikasi Damai Taiwan Jadi Jalan Terbaik

0
China
Ilustrasi Bendera Tiongkok di Lapangan Tiananmen Beijing. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, SHANGHAI — Pemerintah China kembali menegaskan bahwa reunifikasi damai dengan Taiwan merupakan jalan terbaik untuk memperkuat hubungan lintas Selat.

Pernyataan ini disampaikan oleh Wang Huning, anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis China (PKC) sekaligus pejabat yang membidangi urusan Taiwan, dalam peringatan 80 tahun “pemulihan” Taiwan ke dalam pemerintahan China di Great Hall of the People, Beijing, Sabtu (25/10/2025).

“Reunifikasi damai dengan Taiwan merupakan jalan terbaik ke depan,” ujar Wang seperti dikutip Xinhua.

Wang juga menegaskan bahwa Beijing tidak akan mentoleransi segala bentuk aktivitas yang mendukung kemerdekaan Taiwan. Ia menambahkan bahwa China akan memimpin dalam berbagi hasil pembangunan dan kemajuan dengan rakyat Taiwan.

Baca Juga :  Safari Jurnalis 2026: PWI Kabupaten Bogor dan BNN Gandeng Masyarakat Perangi Narkoba

Taiwan Menolak, Sebut Reunifikasi Sebagai Pemaksaan

Menanggapi pernyataan tersebut, Dewan Urusan Daratan (Mainland Affairs Council/MAC) Taiwan menyebut bahwa pesan Beijing hanyalah pengulangan narasi lama. Mereka menilai bahwa tujuan sebenarnya adalah menggabungkan Taiwan secara paksa ke dalam pemerintahan China.

“Pengalaman Hong Kong telah menunjukkan bahwa konsep ‘satu negara, dua sistem’ pada akhirnya bermakna pemerintahan otoriter oleh Partai Komunis China,” tegas MAC dalam pernyataan resmi.

MAC juga menyatakan bahwa tawaran pembangunan di bawah skema unifikasi tidak menarik bagi masyarakat Taiwan.

Baca Juga :  Ketahanan Energi China di Tengah Konflik Timur Tengah, Strategi Jangka Panjang dan Diversifikasi

Taipei Rayakan Pertempuran Guningtou, Bukan “Pemulihan”

Berbeda dengan Beijing, pemerintah Taiwan tidak memperingati “pemulihan” Taiwan ke China. Sebaliknya, Taipei merayakan peringatan Pertempuran Guningtou tahun 1949, ketika pasukan komunis gagal merebut Pulau Kinmen yang hingga kini masih berada di bawah kendali Taiwan.

Presiden Taiwan, Lai Ching-te, menegaskan komitmen negaranya untuk menjaga nilai-nilai demokrasi dan kebebasan.

“Kami ingin terus menjadi mitra keamanan terpercaya bagi sekutu kami, dan bersama-sama membangun garis pertahanan kuat untuk melindungi nilai-nilai kebebasan dan demokrasi,” tulis Lai di laman Facebook resminya, Sabtu (25/10).

Baca Juga :  Kemenpar Apresiasi Pembukaan Rute Charter Taipei–Manado oleh TransNusa

Sejarah yang Terus Diperdebatkan

China dan Taiwan terus bersitegang sepanjang tahun ini, dengan masing-masing pihak memiliki interpretasi berbeda atas sejarah pasca-Perang Dunia II. Taiwan sebelumnya merupakan koloni Jepang dari 1895 hingga 1945, sebelum diserahkan kepada pemerintahan Republik China.

Setelah kalah dalam perang saudara melawan komunis, pemerintahan Republik China melarikan diri ke pulau Taiwan pada 1949 dan hingga kini mempertahankan nama resmi Republik China (ROC).

Pemerintah Taiwan menegaskan bahwa klaim teritorial Beijing tidak sah, dan hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber