NARASITODAY.COM, JAKARTA – Memasuki bulan November 2025, masyarakat Jawa kembali menengok pada tradisi lama yang tetap lestari hingga kini — penanggalan Jawa dan Hijriah. Meski zaman terus berkembang, kalender ini masih menjadi acuan penting untuk berbagai keperluan budaya, religi, hingga menentukan hari baik.
Kalender Jawa dikenal unik karena menggabungkan sistem hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) dengan kalender Masehi. Kombinasi ini banyak digunakan untuk menentukan waktu terbaik dalam acara pernikahan, pindah rumah, hingga ritual adat.
Tak hanya itu, penanggalan Hijriah juga menjadi rujukan penting bagi umat Islam. Melalui kalender ini, masyarakat dapat mengetahui jadwal ibadah, peringatan hari besar keagamaan, dan kegiatan berbasis syariat.
Selama periode 1–30 November 2025, penanggalan Jawa dimulai dari Sabtu Pahing, 10 Jumadil Awal 1447 H, dan berakhir pada Ahad Legi, 9 Jumadil Akhir 1447 H. Menurut data dari Kementerian Agama RI (aceh.kemenag.go.id), berikut beberapa tanggal penting di bulan tersebut:
- 1 November 2025 – Sabtu Pahing / 10 Jumadil Awal 1447 H
- 7 November 2025 – Jumat Pon / 16 Jumadil Awal 1447 H
- 15 November 2025 – Sabtu Legi / 24 Jumadil Awal 1447 H
- 21 November 2025 – Jumat Pahing / 30 Jumadil Awal 1447 H
- 22 November 2025 – Sabtu Pon / 1 Jumadil Akhir 1447 H
- 30 November 2025 – Ahad Legi / 9 Jumadil Akhir 1447 H
Bagi sebagian masyarakat Jawa, weton atau kombinasi antara hari dan pasaran masih diyakini berpengaruh terhadap keberuntungan, karakter seseorang, hingga kecocokan dalam hubungan dan usaha.
Sementara itu, dari sisi keagamaan, kalender Hijriah menjadi pengingat penting bagi umat Muslim dalam menyiapkan agenda ibadah dan memperingati hari-hari besar Islam.
Dengan demikian, perpaduan antara kalender Masehi, Jawa, dan Hijriah mencerminkan kekayaan budaya Indonesia yang memadukan unsur spiritual, adat, dan sejarah dalam satu sistem waktu yang harmonis. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : Kompas.tv













