NARASITODAY.COM, KINSHASA – Kabar buruk kembali datang dari Republik Demokratik Kongo (RD Kongo). Wabah virus Ebola yang mematikan dilaporkan telah meluas dan menginfeksi dua provinsi baru di wilayah timur laut negara tersebut, yaitu Haut-Uele dan Tshopo.
Berdasarkan laporan terbaru dari Institut Kesehatan Masyarakat Nasional Kongo yang dilansir dari Reuters, Senin (13/7/2026), status kedua wilayah tersebut kini resmi ditingkatkan demi menekan laju penularan.
Lonjakan Kasus dan Korban Jiwa
Hingga Minggu (12/7/2026), data resmi pemerintah menunjukkan potret yang kian mengkhawatirkan. Jumlah kasus Ebola yang dikonfirmasi di seluruh negeri telah melonjak hingga 1.926 kasus, dengan angka kematian yang menyentuh 702 jiwa.
Di wilayah Tshopo sendiri, otoritas kesehatan telah mencatat empat kasus konfirmasi yang mencakup dua kematian. Sementara itu, satu kasus kematian juga telah dikonfirmasi terjadi di Provinsi Haut-Uele hingga Sabtu lalu.
Penyakit akibat virus yang kerap berujung fatal ini dikenal sangat agresif. Ebola menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dari manusia atau hewan yang terinfeksi. Dalam hitungan hari, virus ini mampu merenggut kebahagiaan sebuah keluarga, menghadirkan gejala mengerikan mulai dari demam tinggi, muntah-muntah, hingga pendarahan internal dan eksternal.
Kewaspadaan di Pintu Gerbang Provinsi
Langkah pelacakan sebenarnya sudah diupayakan sejak akhir Juni lalu. Otoritas kesehatan Kongo bergerak cepat memburu rantai kontak orang-orang yang berpotensi terpapar di Tshopo dan Haut-Uele. Namun, kedua provinsi tersebut baru dimasukkan ke dalam laporan harian pemerintah minggu ini karena kasusnya yang mulai terverifikasi.
Penyebaran ke dua wilayah ini menjadi alarm keras. Pasalnya, Tshopo memiliki ibu kota Kisangani yang merupakan salah satu kota terbesar dan pusat mobilisasi penting di Kongo. Sementara Haut-Uele memegang posisi geopolitik yang sensitif karena berbatasan langsung dengan Sudan Selatan dan Republik Afrika Tengah membuat risiko penularan lintas negara menjadi kian nyata.
Pihak berwenang meyakini bahwa penularan ini awalnya dibawa oleh mobilitas warga dari wilayah episentrum lain.
“Meskipun investigasi saat ini menunjukkan bahwa semua kasus yang terdeteksi di dua provinsi ini sebagian besar diimpor dari Niania di Ituri, perlu dan tepat … untuk menganggap kedua provinsi ini sebagai zona epidemi,” tulis Institut Kesehatan Masyarakat Nasional dalam laporan resminya tertanggal 11 Juli.
Fenomena Gunung Es yang Mengancam
Di balik angka-angka resmi yang dirilis, para ahli mengkhawatirkan adanya ancaman tersembunyi yang jauh lebih besar. Realitas di lapangan diduga kuat menyerupai fenomena gunung es, di mana banyak kasus penularan yang belum terdeteksi oleh radar medis.
Seorang pejabat senior dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan peringatan pemungkas terkait kondisi ini. Ia mengungkapkan kepada Reuters pekan lalu bahwa skala sebenarnya dari wabah tersebut bisa dua hingga empat kali lebih besar daripada yang ditunjukkan oleh data resmi.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, sebab “empat dari lima kasus Ebola baru tidak memiliki hubungan yang diketahui dengan pasien yang sudah ada.” Putusnya rantai pelacakan ini menjadi tantangan terberat bagi para petugas medis yang kini sedang berpacu dengan waktu di jantung Afrika.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














