
NARASITODAY.COM, JAKARTA – Indonesia dipastikan akan kehilangan salah satu lumbung medalinya pada perhelatan SEA Games 2025 di Thailand. Olahraga selam (Finswimming) dikonfirmasi tidak akan dipertandingkan, sebuah keputusan yang menimbulkan keprihatinan mengingat Finswimming adalah penyumbang medali terbanyak bagi kontingen Merah Putih di SEA Games 2023 Kamboja.
Pada SEA Games 2023, Indonesia sukses menutup perolehan medali di posisi ketiga dengan total 276 keping. Dari jumlah tersebut, cabang Finswimming memberikan kontribusi signifikan dengan meraih 21 medali (6 emas, 10 perak, dan 5 perunggu).
Menanggapi absennya cabang tersebut di Thailand 2025, Komite Eksekutif Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Harry Warganegara, menyatakan harapan agar Finswimming dapat kembali masuk dalam daftar cabang olahraga (cabor) pada edisi mendatang.
“Saya berharap pada SEA Games edisi 2027 di Malaysia dan 2029 di Singapura dan seterusnya bisa ada Finswimming. Kalau bisa tidak hanya satu nomor,” kata Harry, yang juga mantan CdM kontingen Indonesia di SEA Games 2019.
Harry Warganegara menekankan potensi medali Indonesia yang besar dalam olahraga akuatik, termasuk cabor lain yang sempat dipertandingkan.
“Indonesia punya potensi medali. Pada SEA Games Filipina, misalnya, nomor underwater hockey juga dipertandingkan dan kita meraih medali,” sambungnya.
Komitmen POSSI untuk Multievent
Komitmen untuk mengembalikan olahraga selam ke ajang multievent regional juga ditegaskan oleh pimpinan induk organisasi nasional.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Olahraga Selam Indonesia (PB POSSI) Komjen Pol. Makhruzi Rahman menegaskan upayanya agar cabor selam, termasuk finswimming, kembali dipertandingkan dalam ajang seperti SEA Games.
“Kami terus mendorong agar olahraga selam bisa dipertandingkan di multievent. Memang pada SEA Games 2025, cabang ini tidak dilombakan,” ujar Makhruzi saat ditemui di sela pembukaan CMAS Southeast Asia Championship Finswimming Indoor 2025 di Stadion Akuatik Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu.
Absennya Finswimming memaksa KOI dan PB POSSI untuk berfokus pada upaya diplomasi agar cabang ini diakui dan dipertandingkan kembali di masa depan, demi memaksimalkan potensi medali Indonesia di kancah Asia Tenggara.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com













