NARASITODAY.COM, RIYADH – Pusat kota Riyadh, Arab Saudi, tengah dilanda kehebohan menyusul viralnya sebuah kafe yang menyajikan bir non-alkohol. Fenomena ini, yang memperlihatkan pria berjubah putih hingga perempuan bercadar asyik menikmati bir 0,0% alkohol asal Jerman, memicu perdebatan sengit di media sosial, menyoroti tarik-menarik antara modernitas dan nilai-nilai keagamaan di Kerajaan.
Kafe bernama A12 mendadak menjadi magnet baru bagi anak muda lokal. Kafe ini menawarkan suasana layaknya pub Barat, lengkap dengan bir draft Warsteiner (0,0% alkohol), kacang, dan layar lebar bertema olahraga.
“Ide kami adalah menawarkan pengalaman orisinal kepada pelanggan yang bisa mereka bagikan di media sosial,” ujar Manajer Kafe A12, Abdallah Islam, kepada AFP.
Kafe tersebut langsung penuh sesak sejak mulai menyajikan bir non-alkohol pada April. Gambar bir bahkan terpampang besar di jendela kafe.
Popularitas bir tanpa alkohol ini disorot oleh media asing.
“Bir non alkohol meraih popularitas di Saudi Arabia,” tulis laman media sosial Instagram (IG) @royalnewsenglish, melansir video AFP, dikutip Jumat (20/11/2025). “Dan sementara kaum muda mencobanya dengan hati-hati dan rasa ingin tahu, Kerajaan tetap melarang alkohol demi menjaga nilai-nilai keagamaannya,” lanjut akun tersebut.
Fenomena ini memicu berbagai respons dari netizen, khususnya yang menyuarakan kekhawatiran tentang pengaruh Barat. Beberapa menggunakan kata dalam bahasa Arab “Astagfirullah” dan mempertanyakan mengapa warga harus mengikuti tren Barat.
“Meskipun bebas alkohol, mengapa mereka begitu terobsesi mengikuti standar Barat? Kamu sudah punya panduan yang mengatakan bahwa tidak ada nilai atau kedamaian dalam hal-hal duniawi ini,” tulis akun @tnasehat.
“Perlu saya sampaikan bahwa terdapat persentase kecil alkohol dalam minuman non-alkohol. Persentase ini biasanya tercantum dalam bahan-bahannya,” muat akun @simplistic_saudi_scene, menambahkan dimensi teknis pada perdebatan.
Fenomena ini muncul di tengah gelombang reformasi besar yang dijalankan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), termasuk pembukaan bioskop, pemberian izin mengemudi bagi perempuan, dan masuknya turis asing. Meski demikian, alkohol tetap menjadi garis merah utama.
Arab Saudi dan Kuwait adalah dua negara Teluk yang secara ketat melarang alkohol sepenuhnya, dengan identitas Islam sebagai pertimbangan utama.
“Kerajaan harus berhati-hati dengan potensi legalisasi alkohol, karena akan bertentangan dengan citranya sebagai pemimpin dunia Islam yang kredibel,” kata Sebastian Sons dari lembaga riset Jerman CARPO.
Walau pemerintah telah membuka toko khusus minuman beralkohol untuk diplomat non-Muslim pada awal 2024, mereka menegaskan kembali larangan total bagi warga lokal dan wisatawan. Hal ini ditunjukkan dengan penegasan bahwa alkohol tidak akan disediakan selama Piala Dunia 2034.
Namun, generasi muda Saudi terlihat antusias mencoba pengalaman baru, selama tetap dalam batas syariah.
“Di negara kami, tidak ada minuman beralkohol. Dan kami tidak ingin ada minuman beralkohol,” kata Ahmed Mohammed (18), setelah meneguk habis bir non-alkoholnya.
Kafe seperti A12 kini berfungsi sebagai jembatan, menawarkan gaya hidup modern yang banyak dilihat anak muda Saudi di media sosial, namun tetap mematuhi aturan agama yang menjadi pilar negara. Belum ada konfirmasi atau pernyataan resmi dari pemerintah terkait maraknya fenomena kafe bir non-alkohol ini.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














