NARASITODAY.COM, BEIJING – Ketegangan geopolitik yang memanas antara China dan Jepang kembali menimbulkan ketidakpastian signifikan bagi dunia bisnis dan pertukaran budaya. Imbas terbaru, sejumlah konser musisi Jepang di daratan China dibatalkan secara mendadak, memicu kekhawatiran meluasnya dampak sengketa politik ke sektor ekonomi dan seni.
Pembatalan yang paling menonjol terjadi hanya beberapa jam sebelum penampilan grup jazz Jepang, The Blend, di sebuah klub musik di Beijing pada Kamis malam.
Christian Petersen-Clausen, seorang agen musik yang telah menyelenggarakan puluhan konser di China, menceritakan momen pembatalan tersebut. Seorang petugas berpakaian preman memasuki klub saat sesi sound check.
“Pemilik live house datang kepada saya dan berkata ‘Polisi mengatakan konser malam ini dibatalkan. Tidak ada diskusi,’” ujar Petersen-Clausen, yang dilansir dari Cnbc.
Konser The Blend akhirnya dibatalkan dengan alasan force majeure, meskipun Petersen-Clausen telah menghabiskan enam bulan untuk mendapatkan persetujuan sensor China.
“Sekarang semua yang berbau Jepang dibatalkan,” tambahnya, menekankan kecepatan dan skala reaksi Beijing saat ini.
Pembatalan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik, khususnya setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada 7 November menyatakan Tokyo akan mendukung Taiwan jika mendapat ancaman serius dari militer Beijing sebuah klaim yang ditentang keras oleh China.
Sebelum The Blend, konser penyanyi Jepang Kokia pada Rabu malam juga dibatalkan dengan dalih masalah teknis.
George Chen, mitra di The Asia Group, konsultan kebijakan bisnis di Washington, D.C., menilai bahwa respons Beijing kali ini sangat cepat.
“Kecepatan dan skala reaksi Beijing cukup belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Chen, sembari menambahkan bahwa risiko terbesar bagi merek Jepang di China adalah potensi boikot nasional, meskipun tanda-tanda itu masih terbatas.
Di sisi lain, tidak ada larangan resmi yang dikeluarkan oleh kementerian China terkait konser Jepang, membuat para pelaku bisnis kesulitan dalam perencanaan. Hal ini menciptakan kondisi ketidakpastian yang merugikan.
Petersen-Clausen menyoroti bahwa ketidakpastian ini mulai memukul industri pertukaran budaya.
“Musisi asing menolak booking karena tidak yakin konser akan benar-benar berlangsung. China dianggap terkadang tidak stabil, dan itu masalah bagi kami jika ingin mendorong pertukaran antar-orang,” katanya.
Dampak ketegangan ini tidak terbatas pada musik. Tayang lokal film animasi Jepang seperti Crayon Shinchan dan Cells at Work juga ditunda, dengan alasan menurunnya minat penonton.
Dalam beberapa kasus sejarah, sektor hiburan internasional memang sering menjadi sasaran awal dalam sengketa geopolitik. China pernah membatasi konser K-pop besar selama hampir satu dekade sebagai protes atas sistem misil baru.
Jika ketegangan berlanjut, analis memprediksi langkah tambahan dapat berupa hambatan baru terhadap impor Jepang. Apalagi, turis asal China adalah kelompok terbesar pengunjung asing ke Jepang tahun ini, dan Nomura memperkirakan ketegangan bilateral dapat memangkas PDB Jepang hingga $0,29\%$.
Kondisi ini, menurut para ahli, merusak fondasi hubungan bilateral yang telah dibangun.
“Debat semacam ini merusak kepercayaan, yang semakin sulit dibangun kembali di kedua belah pihak. Kita melihat fenomena ini di banyak hubungan bilateral di seluruh dunia,” tutup James Zimmerman, seorang pengacara di Beijing dan mantan ketua Kamar Dagang Amerika di China.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














