Israel Hentikan Komandan Militer Hizbullah, Risiko Perang Baru Meninggi

0
komandan militer
Risiko Perang dengan Israel Meningkat di Tengah Kunjungan Paus Leo ke Lebanon. Foto : vaticannews.va

NARASITODAY.COM, BEIRUT – Kelompok militan Lebanon, Hizbullah, pada hari Jumat (28/11/2025) secara terbuka menyatakan bahwa mereka mempertahankan hak untuk membalas pembunuhan komandan militer utama mereka, Haytham Ali Tabtabai, yang tewas dalam serangan Israel. Pernyataan ini segera meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya konflik baru di kawasan tersebut.

Pembunuhan Tabtabai pada 23 November dalam serangan di pinggiran selatan Beirut telah menimbulkan spekulasi di Lebanon bahwa Israel mungkin meningkatkan pemboman untuk menekan Hizbullah agar melucuti senjatanya.

Baca Juga :  Dialog Gagal, Hizbullah Peringatkan Rudal Siap Meluncur Jika Israel Teruskan Agresi

Mengutip Reuters, Kepala Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa kelompoknya akan “menentukan waktu” untuk setiap aksi pembalasan. Qassem secara eksplisit mengakui bahwa risiko perang kembali pecah kini berada pada tingkat yang sangat tinggi.

“Apakah Anda mengharapkan perang nanti? Mungkin saja suatu saat. Ya, kemungkinan ini ada, dan kemungkinan tidak adanya perang juga ada,” kata Qassem, meskipun ia menambahkan bahwa Lebanon harus menyiapkan rencana untuk menghadapi Israel yang mengandalkan “tentara dan rakyatnya”.

Baca Juga :  Bersih-Bersih Rumah Kurang Efektif? Mungkin Ini 5 Kesalahannya!

Hizbullah sebelumnya telah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan melepaskan persenjataannya selama Israel terus melakukan serangan di wilayah Lebanon dan mempertahankan pendudukan di lima titik di Lebanon selatan.

Peringatan dari Hizbullah ini segera ditanggapi oleh militer Israel. Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, mengklaim bahwa upaya tentara Lebanon untuk menyita senjata Hizbullah di Lebanon selatan “tidak memadai.”

Hizbullah terus memanipulasi tentara Lebanon dan bekerja secara terselubung untuk mempertahankan persenjataannya,” ujar Adraee, menanggapi situasi keamanan di perbatasan.

Baca Juga :  Abai Terhadap Laporan Warga!! Kabel PLN Menjuntai Terseret Truk, Sejumlah Rumah di Nanggung Rusak

Ketegangan yang memanas ini terjadi di tengah suasana politik dan agama yang sensitif. Pemimpin umat Katolik Roma, Paus Leo, diketahui sedang berkunjung ke Lebanon.

Dalam konteks tersebut, Qassem berharap kehadiran Paus dapat membawa dampak positif bagi perdamaian.

“Kami berharap kunjungan ini akan memainkan peran dalam mewujudkan perdamaian dan mengakhiri agresi (Israel),” tambahnya, mencerminkan adanya harapan akan de-eskalasi di tengah retorika konflik.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com