NARASITODAY.COM – Proses “move on” sering kali menjadi topik yang rumit dan sensitif. Tidak hanya menyangkut perasaan pribadi, tetapi juga menjaga kehormatan dan kenyamanan semua pihak yang terlibat baik mantan pasangan, keluarga, maupun lingkungan sosial. Karena itu, muncul dorongan untuk menerapkan pedoman etis agar proses move on dapat dilakukan secara sehat, elegan, dan penuh rasa hormat.
Berikut lima pedoman etis move on yang mulai banyak digaungkan sebagai standar sikap dewasa dalam menyikapi berakhirnya sebuah hubungan:
1. Hormati Privasi dan Cerita Masa Lalu
Langkah pertama move on yang etis adalah menjaga privasi. Hubungan yang telah berlalu tidak perlu menjadi konsumsi publik, terutama melalui media sosial. Mengumbar aib, membagikan pesan pribadi, atau menyalahkan satu pihak hanya akan memperkeruh keadaan. Sikap dewasa tercermin dari kemampuan merawat cerita masa lalu dengan tenang tanpa menyudutkan siapa pun.
2. Jelaskan Batasan Tanpa Menyakiti
Setelah berpisah, batasan baru perlu dibangun—mulai dari frekuensi komunikasi, jarak pertemuan, hingga interaksi di media sosial. Namun, penetapan batasan ini sebaiknya dilakukan secara jelas dan tanpa menyakiti. Komunikasi yang jujur namun tetap sopan membantu kedua pihak memahami peran baru mereka tanpa menimbulkan konflik tambahan.
3. Jangan Gunakan Pihak Ketiga sebagai Pelarian
Salah satu pelanggaran etika move on yang paling umum adalah menjadikan orang baru sebagai pelampiasan. Ini bukan hanya menyakiti pihak ketiga, tetapi juga memperkeruh proses pemulihan diri. Move on yang etis dilakukan dengan kesadaran, bukan dengan pengalihan. Beri waktu pada diri sendiri untuk pulih sebelum membuka hati kembali.
4. Kendalikan Narasi di Media Sosial
Dalam era digital, jejak media sosial sering kali lebih keras daripada ucapan langsung. Unggahan bernada sindiran, drama, atau pamer kedekatan baru untuk memancing reaksi mantan hanya akan menambah masalah. Move on yang sehat justru bersifat tenang, fokus pada pengembangan diri, dan tidak menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu.
5. Fokus pada Pertumbuhan, Bukan Pembuktian
Move on yang etis bukan tentang menunjukkan “siapa yang lebih cepat bahagia,” tetapi tentang membangun diri menjadi pribadi yang lebih kuat dan matang. Alih-alih berlomba-lomba terlihat sukses setelah putus, lebih bijak untuk fokus pada hal-hal positif seperti karier, kesehatan mental, dan hubungan sosial yang sehat.
Proses move on memang tidak pernah mudah, namun dengan menerapkan lima pedoman etis ini, setiap pihak dapat melangkah maju tanpa saling melukai. Sebuah hubungan boleh berakhir, tetapi sikap hormat dan kemanusiaan tetap dapat dijaga. Pada akhirnya, cara seseorang move on sering kali mencerminkan kualitas pribadi mereka.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com














