NARASITODAY.COM, Peru – Mobil yang dikendarai calon presiden Peru, Rafael Belaunde, diserang oleh orang-orang bersenjata yang mengendarai sepeda motor di kota Cerro Azul, sekitar 130 kilometer selatan ibu kota Lima, pada Selasa waktu setempat. Insiden yang mengejutkan ini terjadi menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan April tahun depan.
SUV yang dikemudikan politisi berusia 50 tahun itu diberondong beberapa tembakan, menyebabkan kaca kendaraannya pecah. Belaunde sendiri terlihat berlumuran darah di wajah dan bahunya, namun ia dilaporkan tidak mengalami luka serius.
Kepala polisi Oscar Arriola menjelaskan bahwa darah yang terlihat pada tubuh Belaunde berasal dari pecahan kaca akibat serangan tersebut.
“Tembakan dilepaskan ke arah kendaraan dan ke arahnya,” kata Kepala Polisi Oscar Arriola kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa Belaunde mengemudikan mobil itu sendiri, tulis AFP, Rabu (3/12/2025).
Polisi awalnya menduga Belaunde adalah penumpang, tetapi laporan terakhir mengonfirmasi ia mengemudi sendiri, meski tidak jelas apakah ada orang lain di dalam mobil bersamanya saat serangan terjadi.
Belaunde, yang merupakan mantan menteri energi dan cucu dari mantan presiden dua periode Peru, Fernando Belaunde, mengatakan kepada polisi bahwa ia tidak pernah menerima ancaman apa pun sebelumnya.
Serangan terhadap kandidat presiden, meskipun Belaunde tidak termasuk di antara kandidat favorit dalam jajak pendapat awal, memicu gelombang kecaman dari kalangan politik Peru.
Ketua Pengadilan Pemilu Peru, Roberto Burneo, mendesak pemerintah untuk segera meningkatkan keamanan bagi para kandidat menjelang pemilihan umum pada 12 April. Serangan ini menggarisbawahi kondisi ketidakstabilan dan lonjakan kejahatan terorganisir yang kini melanda Peru.
Di jajak pendapat awal, nama mantan wali kota Lima, Rafael Lopez Aliaga, dan Keiko Fujimori, putri mendiang mantan presiden Alberto Fujimori, masih lebih unggul.
Serangan ini terjadi di tengah periode kerusuhan dan tingginya tingkat kejahatan di Peru yang dipicu oleh korupsi dan maraknya geng kriminal.
- Kejahatan Terorganisir: Geng kriminal telah memicu gelombang pemerasan yang intens, terutama menargetkan pengemudi bus. Puluhan pengemudi bus tewas ada yang ditembak mati karena perusahaan mereka menolak membayar uang perlindungan.
- Data Korban: Menurut kantor kejaksaan umum, sejak awal tahun, 56 pengemudi bus telah tewas dalam insiden terkait kejahatan.
- Ketidakstabilan Politik: Kerusuhan terkait kejahatan dan korupsi turut memicu pemakzulan mantan presiden Dina Boluarte, yang kemudian digantikan oleh Jose Jeri, menjadikannya presiden ke-7 Peru sejak 2017.
Para ahli mencatat bahwa maraknya geng-geng kriminal dipicu oleh kombinasi tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran pascapandemi, ketidakstabilan politik sejak penggulingan Pedro Castillo pada 2022, serta kebangkitan geng-geng domestik dan transnasional seperti Tren de Aragua dari Venezuela.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














