Utang Nasional AS Tembus US$38 Triliun, Biaya Bunga Ancam Anggaran Federal

0
AS
Ilustrrasi Bendera Amerika dan mata uang Amerika. Foto : Istock

NARASITODAY.COM,WASHINGTON, D.C. – Amerika Serikat (AS) kini menghadapi tantangan fiskal yang kian serius setelah utang nasionalnya melampaui angka US$38 triliun (sekitar Rp635 ribu triliun). Jumlah ini menempatkan negara tersebut semakin dekat dengan “titik kritis fiskal” karena biaya bunga yang harus ditanggung federal terus melonjak, menciptakan tekanan besar pada anggaran.

Beban utang yang masif ini setara dengan lebih dari US$114.000 (Rp1,91 miliar) per warga negara, dan defisit terus bertambah dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Laju penambahan utang menjadi sorotan utama. Dalam kurun waktu sedikit lebih dari dua bulan, utang AS melonjak sebesar US$1 triliun (Rp16,73 triliun). Peningkatan ini disebut sebagai salah satu lonjakan tercepat dalam sejarah di luar periode pandemi besar, yang menggarisbawahi kecepatan masalah struktural tersebut.

Baca Juga :  Kemenperin Kecewa Penolakan Insentif Otomotif 2026, Nilai Berpotensi Hambat Pemulihan Industri

Washington diperkirakan akan mencatat defisit anggaran federal untuk tahun fiskal 2025 di antara US$1,8 triliun hingga US$2 triliun.

Yang lebih mengkhawatirkan, biaya bunga untuk melayani utang telah melonjak melampaui kecepatan pertumbuhan program federal utama lainnya. Biaya tahunan pembayaran bunga kini mendekati atau bahkan melebihi alokasi untuk program-program besar seperti pertahanan dan Medicare.

“Kombinasi defisit besar dan biaya bunga yang tinggi menciptakan jalur fiskal yang oleh banyak ekonom kini disebut tidak berkelanjutan. Tanpa reformasi besar, tren ini akan terus berlanjut meskipun ekonomi tumbuh pada laju yang stabil,” tulis media ekonomi, Economic Times, Selasa (2/12/2025).

Banyak warga dan pemimpin AS menganggap status dolar sebagai mata uang cadangan dunia memberikan perlindungan yang tak terbatas (“exorbitant privilege”) dari krisis utang. Namun, analis memperingatkan bahwa perlindungan tersebut sangat terbatas.

Baca Juga :  Sepakati Perubahan KUA dan PPAS Tahun Anggaran 2025, Rudy Susmanto Ingin Selesaikan Pembangunan di Sektor Penting

Jika investor mulai meragukan kemampuan manajemen utang AS, mereka akan menuntut imbal hasil (yield) yang lebih tinggi pada obligasi Treasury. Peningkatan imbal hasil ini berarti pemerintah harus menghabiskan lebih banyak uang untuk bunga, dan mengurangi anggaran untuk program sosial atau inisiatif pertumbuhan ekonomi.

Sinyal tekanan pasar terlihat dari melunaknya permintaan lelang Treasury serta merosotnya kepemilikan asing atas utang pemerintah AS, yang kini berada di sekitar 30%. Lembaga pemeringkat kredit juga memantau ketat situasi ini, di mana penurunan peringkat lebih lanjut akan mendorong kenaikan biaya pinjaman di seluruh perekonomian.

Bagi warga AS, utang yang terus meningkat bukan hanya masalah statistik makro. Peningkatan utang dapat secara langsung memengaruhi:

  • Harga sehari-hari
  • Pendanaan layanan kesehatan dan Jaminan Sosial
  • Kenaikan suku bunga global yang meningkatkan biaya pinjaman, berarti hipotek yang lebih tinggi dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga :  Jenderal Qaani Selamat Serangan AS-Israel, Tuduhan Pengkhianat Menggantung

Para analis memperingatkan bahwa meskipun dolar masih menjadi mata uang cadangan utama dunia, utang yang terus membengkak ini secara perlahan mengikis kepercayaan tersebut. Jika permintaan global terhadap dolar melemah, AS berisiko menghadapi tekanan serupa yang terlihat pada ekonomi Eropa yang tertekan utang.

Para pemimpin AS didesak untuk segera membuat keputusan fiskal yang sulit dan tegas untuk menghindari terulangnya kesalahan yang terlihat di luar negeri. Biaya dari kelambanan diperingatkan sangat tinggi, dan mengabaikan tanda-tanda peringatan dapat memaksa pilihan fiskal yang jauh lebih menyakitkan di masa depan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com