San Francisco Seret Perusahaan Soda dan Sereal ke Pengadilan Obesitas

0
San Francisco
Kolase logo Kraft Heinz, Coca-Cola, Nestle, dan Kellogg. Foto : dok.Ist

NARASITODAY.COM, SAN FRANCISCO – Kota San Francisco di California, Amerika Serikat (AS), secara resmi melayangkan gugatan terhadap sejumlah produsen makanan ultra-olahan (ultra processed food/ UPF) terbesar di dunia, termasuk Kraft Heinz, Coca-Cola, Nestle, dan Kellogg.

Gugatan ini diajukan dengan klaim bahwa produk-produk tersebut telah direkayasa dan dipasarkan sedemikian rupa sehingga menyebabkan jutaan penduduk mengalami obesitas selama beberapa dekade.

Gugatan ini didaftarkan di Pengadilan Tinggi San Francisco pada hari Selasa, 2 Desember 2025, dan diluncurkan bersamaan dengan gerakan Make America Healthy Again (MAHA). Gerakan MAHA sendiri dikenal sebagai bagian penting dari koalisi Presiden Donald Trump.

Jaksa Kota San Francisco, David Chiu, menyoroti peran sentral perusahaan-perusahaan ini dalam memicu krisis kesehatan. Ia tidak segan menuding praktik industri makanan ini menyerupai strategi pemasaran perusahaan tembakau di masa lalu.

Baca Juga :  Strategi Lama AS Dinilai Tak Lagi Relevan dalam Menghadapi Perang Modern

“Perusahaan-perusahaan ini menciptakan krisis kesehatan masyarakat dengan rekayasa dan pemasaran makanan ultra-olahan,” kata Chiu, dikutip dari AFP, Rabu (3/12/2025).

Chiu menambahkan bahwa proses pembuatan produk telah membuatnya berbahaya. “Mereka mengambil makanan dan membuatnya tidak dapat dikenali dan berbahaya bagi tubuh manusia,” tegasnya.

Makanan ultra-olahan, yang mencakup produk seperti permen, keripik, soda, dan sereal sarapan, umumnya dibuat dari bahan-bahan yang telah dipecah, dimodifikasi secara kimia, dan dicampur dengan berbagai zat aditif buatan. Jenis makanan ini seringkali sarat dengan pewarna, pemanis, pengental, dan penambah rasa buatan yang tidak mungkin diproduksi di dapur rumah tangga.

Baca Juga :  Tiongkok dan Prancis Berkomitmen Kerjasama Energi, Macron Minta Sikap Tegas Soal Ukraina

Gugatan tersebut mengklaim sekitar 70% produk yang dijual di supermarket AS adalah produk ultra-olahan. Chiu menuduh produsen sengaja membanjiri pasar dan menargetkan konsumen, terutama anak-anak.

“Orang Amerika ingin menghindari makanan ultra-olahan, tetapi kita dibanjiri olehnya,” ujar Chiu. “Perusahaan-perusahaan ini merekayasa krisis kesehatan masyarakat, mereka meraup untung besar, dan sekarang mereka harus bertanggung jawab atas kerugian yang telah mereka timbulkan.”

Gugatan tersebut secara spesifik menuduh bahwa produsen menggunakan strategi pemasaran yang mengabaikan atau mengaburkan risiko bahaya. Anak-anak menjadi target utama, dikelilingi oleh pesan produk yang konsisten dan iklan yang menggunakan maskot kartun populer, seperti Tony the Tiger dan Fred Flintstone.

Baca Juga :  Trump Ancam Tarik Pasukan AS dari Italia dan Spanyol, Sehari Setelah Ucapkan Pengurangan di Jerman

Gugatan menuntut ganti rugi yang jumlahnya tidak disebutkan.

Isu makanan ultra-olahan ini telah lama menjadi perhatian di tingkat federal. Sebelumnya, Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Robert Kennedy, sering melontarkan kritik keras, menyebut makanan olahan sebagai “racun” dan menyalahkannya atas melonjaknya tingkat obesitas, penyakit kronis, dan kesehatan yang buruk, khususnya di kalangan anak muda.

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menunjukkan besarnya masalah kesehatan ini. Saat ini, 40% orang Amerika mengalami obesitas, dan hampir 16% menderita diabetes, kondisi yang erat kaitannya dengan kelebihan berat badan.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber