NARASITODAY.COM – Media sosial kembali diramaikan oleh video anak-anak yang bertingkah tak sopan saat bertamu ke rumah orang lain. Mulai dari masuk tanpa izin, berteriak-teriak, hingga merusak perabot tuan rumah konten seperti ini sering jadi viral dan memicu komentar pedas dari warganet. Tak sedikit pula orangtua yang akhirnya merasa malu setelah tuan rumah mengeluh di grup WhatsApp lingkungan.
Fenomena ini membuat banyak pakar parenting menegaskan kembali pentingnya mengajarkan etika bertamu sejak dini. Bukan sekadar sopan santun, tetapi juga untuk melatih kontrol diri, menghargai privasi orang lain, dan membentuk pribadi yang beradab.
Berikut panduan lengkap etika bertamu yang wajib diajarkan pada anak-anak agar aman, nyaman, dan tidak membuat orangtua kebingungan saat mengunjungi rumah siapapun.
1. Ucap Salam dan Tunggu Izin Masuk
Hal pertama yang harus ditanamkan adalah kebiasaan mengetuk pintu dan mengucap salam sebelum masuk. Baik dengan ucapan “Assalamualaikum” maupun “Permisi”, anak perlu tahu bahwa pintu terbuka bukan berarti boleh langsung masuk.
Menghargai ruang pribadi tuan rumah akan memberi kesan positif sejak awal. Banyak kasus viral menunjukkan anak tiba-tiba berlari masuk, membuat penghuni rumah terkejut bahkan merasa tidak nyaman.
Latihan kecil di rumah seperti mengetuk pintu kamar orangtua dapat membantu membangun kebiasaan ini sejak usia 3–5 tahun.
2. Duduk Tenang, Jangan Main Perabot Sesuka Hati
Setibanya di ruang tamu, anak harus diajarkan untuk duduk rapi, bukan melompat di sofa, membuka lemari, atau memegang pajangan yang mudah pecah. Selain demi keamanan, tindakan ini juga menunjukkan rasa hormat kepada pemilik rumah.
Di banyak kasus yang viral, kerusakan perabot justru menimbulkan konflik antar orangtua. Untuk menghindari hal ini, biasakan anak paham batasan antara rumah sendiri dan rumah orang lain.
Tips: sediakan mainan kecil atau buku ketika bertamu agar anak tetap tenang tanpa merasa bosan.
3. Hindari Berisik dan Buang Sampah Sembarangan
Anak-anak memang aktif, tetapi saat bertamu, mereka harus mengendalikan volume suara. Mengobrol dengan suara lembut, tidak berteriak, tidak berlari-larian, dan tidak mengganggu tetangga adalah bagian dari etika sosial dasar.
Selain itu, anak juga harus diajarkan tidak meninggalkan sampah di ruang tamu, seperti bungkus permen atau tisu. Kerapian kecil ini menunjukkan kedewasaan karakter dan membuat tuan rumah merasa dihargai.
4. Minta Izin Saat ke Kamar Mandi atau Mengambil Makanan
Banyak insiden tak menyenangkan terjadi karena anak tidak meminta izin. Seperti contoh viral: anak yang tiba-tiba masuk kamar mandi lalu membuat lantai becek, atau mengambil jajanan berlebihan dan menyisakannya.
Ajarkan anak untuk bertanya, misalnya:
- “Maaf, boleh ke kamar mandi?”
- “Boleh ambil snack-nya?”
Setelah mengambil makanan, pastikan anak menghabiskannya agar tidak menyisakan remah atau tumpahan yang merepotkan tuan rumah.
5. Ucap Terima Kasih Saat Pulang
Sebelum meninggalkan rumah, anak perlu dibimbing untuk mengucapkan, “Terima kasih sudah menerima kami.” Gestur sederhana ini membawa dampak besar dalam membangun hubungan sosial yang sehat.
Anak yang terbiasa berterima kasih akan tumbuh menjadi pribadi yang ramah dan berempati. Bahkan, beberapa keluarga mengajarkan anak untuk menawarkan sedikit bantuan merapikan, sebagai bentuk penghormatan tambahan.
Pakar parenting menyebut etika bertamu sebagai “cermin pendidikan di rumah.” Jika anak terbiasa sopan, tidak hanya tuan rumah yang merasa nyaman orangtua pun terhindar dari drama lingkungan atau komplain di grup WA.
Di era digital seperti sekarang, setiap perilaku mudah terekam kamera. Maka, membiasakan etika dasar ini bukan hanya soal sopan santun tradisional, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sosial orangtua di ruang publik.
Dengan pembiasaan yang konsisten, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, menghargai orang lain, dan diterima di berbagai lingkungan.***
Editor : Alysa
Sumber : liputan6.com














