Kasus Gizi Buruk Anak di Gaza Masih Tinggi Meski Gencatan Senjata Berlaku

0
ilustrasi krisis kemanusiaan (pexels.com/Ahmed akacha)

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Situasi kemanusiaan di Gaza masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait kesehatan anak-anak. Data terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan lebih dari 9.000 anak harus menjalani perawatan akibat kekurangan gizi akut sepanjang Oktober 2025. Angka ini tetap tinggi meski gencatan senjata yang dimulai 10 Oktober seharusnya membuka akses lebih luas bagi bantuan kemanusiaan.

Walau ancaman kelaparan massal sedikit mereda bagi sebagian dari 2,2 juta penduduk, kondisi anak-anak di Gaza masih sangat rentan. Banyak dari mereka telah hidup dalam keterbatasan selama dua tahun konflik, kehilangan rumah, dan tinggal di tenda-tenda darurat.

Baca Juga :  Rusia Tegaskan Tetap Pasok Minyak ke Kuba di Tengah Tekanan AS

UNICEF menjadi lembaga utama yang menangani kasus malnutrisi. Mereka mencatat sekitar 9.300 anak menerima perawatan dalam satu bulan—lebih rendah dibanding rekor 14 ribu kasus pada Agustus, namun tetap lima kali lipat lebih tinggi dibanding masa gencatan senjata singkat awal tahun.

Bayi Baru Lahir Berjuang Bertahan Hidup

Juru bicara UNICEF, Tess Ingram, menggambarkan kondisi di lapangan sebagai sesuatu yang “mengejutkan”. Ia menemukan banyak bayi baru lahir yang beratnya bahkan belum mencapai satu kilogram.

Baca Juga :  Debat Panas di Ruang Sidang PBB: AS dan Sekutu Saling Tuding dengan Rusia-China Soal Nuklir Iran

“Dada kecil mereka naik-turun dengan susah payah hanya untuk tetap hidup,” ungkapnya.

Selain anak-anak, sekitar 8.300 ibu hamil dan menyusui juga membutuhkan bantuan karena mengalami kekurangan gizi berat. UNICEF memperingatkan bahwa situasi ini dapat memicu meningkatnya jumlah bayi dengan berat badan lahir rendah dalam beberapa bulan mendatang.

Bantuan Masih Minim, Harga Pangan Tetap Tinggi

Meski gencatan senjata meningkatkan jumlah bantuan yang masuk, pasokan tersebut masih jauh dari cukup. Rata-rata hanya 140 truk bantuan yang tiba setiap hari, sementara kebutuhan sebenarnya mencapai 600 truk per hari. Penundaan distribusi, pembatasan muatan, hingga penutupan jalur membuat bantuan sulit menjangkau wilayah terdampak.

Baca Juga :  Harga BBM Melonjak, Pemerintah Terancam Tambah Beban Subsidi Fiskal

Bahkan ketika pasokan komersial mulai membaik, tingginya harga kebutuhan pokok membuat keluarga di Gaza tetap kesulitan. Harga daging, misalnya, masih berada di angka 20 dolar AS per kilogram, jauh dari jangkauan mayoritas penduduk.

UNICEF menekankan perlunya pembukaan penuh seluruh jalur menuju Gaza untuk memastikan bantuan bisa masuk secara konsisten dan menjangkau mereka yang paling membutuhkan. (MG3)

Editor : Mutiara

Sumber : idntimes.com