Serangan Bersejarah Ukraina di Laut Mediterania, Ancaman Baru bagi Stabilitas Energi Dunia

0
Laut Mediterania
Ukraina mencetak eskalasi baru dalam konflik dengan Rusia setelah melancarkan serangan drone terhadap kapal tanker armada bayangan Rusia di Laut Mediterania, lepas pantai Libya, Jumat (19/12/2025).Foto : Tangkapan Layar Video Reuters/SECURITY SERVICE OF UKRAINE

NARASITODAY.COM, LIBYA – Perang antara Ukraina dan Rusia telah melampaui batas-batas tradisional di Eropa Timur. Dalam sebuah manuver yang mengejutkan dunia internasional, Ukraina meluncurkan serangan drone udara terhadap sebuah kapal tanker milik “armada bayangan” Rusia di lepas pantai Libya, Laut Mediterania, Jumat (19/12/2025).

Serangan ini mencatatkan rekor baru dalam hal jangkauan operasi tempur Kyiv. Lokasi ledakan berada sekitar 2.000 kilometer (1.250 mil) dari perbatasan Ukraina. Ini merupakan serangan pertama Ukraina di kawasan Mediterania sejak invasi besar-besaran Rusia dimulai hampir empat tahun silam.

Kapal tanker yang diidentifikasi sebagai Qendil tersebut dilaporkan mengalami kerusakan parah. Sebuah sumber di Dinas Keamanan Ukraina (SBU) menyebut operasi ini sebagai “operasi khusus baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Kapal tanker ini digunakan untuk menghindari sanksi dan mendapatkan uang yang digunakan untuk perang melawan Ukraina. Oleh karena itu, dari sudut pandang hukum internasional dan hukum serta kebiasaan perang, ini adalah target yang sepenuhnya sah bagi SBU. Musuh harus memahami bahwa Ukraina tidak akan berhenti dan akan mengalahkannya di mana pun di dunia, di mana pun dia berada,” tegas seorang pejabat Ukraina kepada Ukrainska Pravda.

Baca Juga :  Mati Rasa di Wajah? Ini Dia 5 Penyebab yang Mungkin Terjadi

Waktu serangan tersebut dipilih dengan sangat presisi, bertepatan dengan konferensi pers akhir tahun Presiden Vladimir Putin di Moskow. Saat Putin sedang berbicara di depan jutaan rakyatnya melalui siaran maraton tahunan, drone Ukraina justru membuktikan bahwa aset ekonomi Rusia tidak lagi aman, bahkan di perairan internasional yang jauh.

Putin, yang tampak geram dalam acara tersebut, menyebut tindakan Ukraina sebagai upaya pembajakan dan memperingatkan akan adanya konsekuensi serius bagi stabilitas pasokan energi dunia.

“Pada akhirnya, ini tidak akan menghasilkan hasil yang diharapkan. Ini tidak akan mengganggu pasokan apapun, tetapi hanya akan menciptakan ancaman tambahan,” kata Putin. Ia juga menegaskan bahwa Rusia “pasti membalas” serangan terhadap armada bayangannya tersebut.

Baca Juga :  Tragis, Gadis Yatim Piatu di Bogor Dibunuh Teman Lama dan Dilempar dari Atas Tol BORR

“Armada bayangan” adalah istilah untuk ribuan kapal tanker dengan kepemilikan samar dan bendera yang sering berganti-ganti, digunakan Rusia untuk mengekspor minyak mentah guna membiayai mesin perangnya meskipun di bawah sanksi Barat.

Kelompok manajemen risiko maritim asal Inggris, Vanguard, menilai serangan di Mediterania ini menandai eskalasi baru yang signifikan.

“Perkembangan ini mencerminkan perluasan yang mencolok dari penggunaan sistem pesawat tanpa awak oleh Ukraina terhadap aset maritim yang terkait dengan jaringan ekspor minyak Rusia yang dikenai sanksi,” tulis Vanguard dalam analisisnya.

Meskipun merusak kapal secara signifikan, pihak SBU memastikan bahwa kapal Qendil sedang dalam keadaan kosong saat serangan terjadi, sehingga tidak menimbulkan ancaman tumpahan minyak yang dapat merusak lingkungan Mediterania.

Baca Juga :  Barcelona Gagal Raih Kemenangan di Kandang, Tumbang 1-2 dari Las Palmas

Insiden ini terjadi di tengah gerakan global untuk memberangus aktivitas armada bayangan Rusia. Langkah agresif tidak hanya datang dari Ukraina; bulan ini, pasukan AS dilaporkan menaiki kapal tanker bayangan di lepas pantai Venezuela, sementara pemerintahan Trump mengumumkan rencana blokade terhadap kapal-kapal serupa.

Di saat yang sama, Putin tetap menunjukkan sikap kerasnya. Selain mengancam akan memutus akses Ukraina ke Laut Hitam, ia juga mengecam penggunaan aset bank sentral Rusia yang dibekukan untuk rekonstruksi Ukraina. “Ini adalah perampokan,” cetus Putin, seraya menyatakan bahwa Moskow akan menempuh jalur hukum internasional.

Kini, dengan drone yang mampu menjangkau hingga 2.000 kilometer, Kyiv telah mengirimkan pesan jelas ke Kremlin: di mana pun kapal-kapal penyokong dana perang Rusia berlayar, mereka tetap berada dalam bidikan Ukraina.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com