NARASITODAY.COM, RIYADH – Di sebuah sudut tersembunyi kawasan Diplomatic Quarter, Riyadh, sebuah bangunan tanpa papan nama menjadi pusat perhatian yang tenang namun riuh. Tanpa pengumuman resmi dari kerajaan, antrean panjang mobil mewah kini mulai terlihat di depan toko yang selama ini menjadi rahasia umum. Arab Saudi, negara yang selama tujuh dekade mengharamkan alkohol, baru saja memperluas akses toko minuman keras resminya.
Langkah ini merupakan bagian dari agenda liberalisasi di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Jika sebelumnya toko ini hanya melayani diplomat non-Muslim, kini warga asing non-Muslim pemegang Premium Residency para investor dan profesional berkeahlian tinggi diperbolehkan masuk ke “zona eksklusif” tersebut.
Memasuki toko ini layaknya memasuki fasilitas rahasia negara. Penjaga melakukan penggeledahan ketat terhadap setiap pengunjung. Ponsel dan kamera dilarang keras, bahkan kacamata pun diperiksa untuk memastikan bukan smart glasses yang bisa merekam suasana di dalam.
Para pembeli yang diwawancarai oleh Associated Press memilih untuk tetap anonim karena stigma sosial yang masih melekat kuat. Mereka mengungkapkan bahwa meski stok bir dan anggur terbatas, keberadaan toko ini adalah perubahan besar, meski harus ditebus dengan harga yang sangat mahal. Berbeda dengan diplomat yang bebas pajak, para pemegang izin tinggal premium harus membayar pajak tinggi untuk setiap botol yang mereka beli.
Kebijakan ini dipandang sebagai eksperimen terkendali untuk menggaet talenta global dan mengurangi ketergantungan pada minyak melalui sektor pariwisata dan bisnis. Sejak tahun 1951, menyusul insiden tragis penembakan diplomat Inggris oleh seorang pangeran yang mabuk, Saudi menetapkan pelarangan total terhadap alkohol.
Namun, di bawah Visi 2030, wajah Saudi terus bersalin rupa. Mulai dari pembukaan bioskop, izin mengemudi bagi perempuan, hingga festival musik besar. Perluasan akses alkohol secara diam-diam ini menjadi sinyal bahwa kerajaan tengah menyeimbangkan citra global dengan sensitivitas religius.
Selama ini, warga atau ekspatriat yang ingin mengonsumsi alkohol harus menyeberang ke Bahrain atau terbang ke Dubai. Sebagian lainnya terpaksa menempuh jalur ilegal melalui penyelundupan atau minuman oplosan yang berisiko tinggi. Bagi anak muda Saudi yang lebih moderat, bir non-alkohol kini menjadi tren estetika di media sosial, namun keinginan untuk mendapatkan “pengalaman nyata” tetap tinggi.
Meski langkah liberalisasi sosial terus dipacu, Arab Saudi tetap mempertahankan kontrol politik yang sangat ketat. Kebebasan berpendapat tetap menjadi garis merah yang tidak boleh dilanggar, dengan ancaman hukum yang bisa mencapai hukuman mati bagi mereka yang menentang kebijakan kerajaan secara terbuka.
Perluasan akses toko alkohol ini menandai pergeseran sosial-ekonomi yang hati-hati namun signifikan. Kerajaan tampaknya sedang menguji respons pasar dan masyarakat secara perlahan, memastikan bahwa reformasi ekonomi tetap berjalan tanpa memicu gejolak sosial yang besar di rumah bagi dua kota suci Islam ini.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














