NARASITODAY.COM, NEW YORK – Selama puluhan tahun, aroma kopi Starbucks di sudut-sudut jalan yang sibuk telah menjadi denyut nadi wilayah metropolitan Amerika Serikat. Namun, di awal tahun 2026 ini, pemandangan kursi-kursi yang dibalik dan pintu yang terkunci mulai menghiasi pusat kota, menandai berakhirnya era ekspansi agresif sang raksasa kopi di jantung urban.
Starbucks resmi mengumumkan penutupan sekitar 400 gerai yang terkonsentrasi di wilayah metropolitan sebagai bagian dari rencana restrukturisasi ambisius senilai US$1 miliar. New York menjadi yang terdampak paling nyata, dengan 42 gerai atau sekitar 12% dari total jaringan mereka di kota tersebut berhenti beroperasi. Langkah serupa juga membayangi kota-kota besar lain seperti Los Angeles, Chicago, hingga San Francisco.
Perubahan perilaku pekerja pascapandemi menjadi pemicu utama. Model bisnis yang dulu mengandalkan mobilitas tinggi pekerja kantoran kini berhadapan dengan sepinya trotoar di kawasan bisnis.
Mengutip CNN.com, Sabtu (3/1/2026), penutupan gerai tersebut menandai perubahan strategi Starbucks yang sebelumnya agresif memperluas jaringan di pusat kota. Model ekspansi yang mengandalkan tingginya mobilitas pekerja kantoran kini dinilai kurang efektif di tengah meningkatnya persaingan dengan kedai kopi yang lebih kecil.
Selain faktor ekonomi, tantangan operasional dan kenyamanan juga menjadi pertimbangan serius. Starbucks kini lebih selektif dalam menentukan lokasi yang berhak menyandang logo “Siren” hijau mereka.
Starbucks menyebut penutupan dilakukan setelah meninjau lebih dari 18.000 gerai di Amerika Serikat dan Kanada. Perusahaan menutup lokasi yang dinilai berkinerja rendah atau tidak lagi memenuhi standar merek.
Di tengah tekanan keamanan dan kenyamanan di beberapa lokasi urban, Starbucks juga mengambil langkah tegas dengan mengakhiri kebijakan yang memungkinkan pengunjung menggunakan fasilitas tanpa melakukan pembelian.
Meski menarik diri dari kepadatan pusat kota, Starbucks tidak menyerah. Mereka kini mengalihkan pandangan ke kawasan pinggiran kota yang lebih tenang namun stabil, dengan mengandalkan model gerai drive-thru yang dianggap lebih hemat biaya operasional.
Perusahaan tetap optimistis untuk melakukan renovasi pada sekitar 1.000 gerai di seluruh Amerika Serikat demi menghidupkan kembali konsep “third place” sebuah ruang ketiga yang nyaman di antara rumah dan kantor bagi para pelanggannya.
Dengan desain baru yang dijanjikan meluncur sepanjang 2026, Starbucks berupaya memastikan bahwa meski beberapa lampu di pusat kota padam, pengalaman menikmati kopi mereka akan tetap menyala di lokasi-lokasi baru yang lebih relevan dengan gaya hidup modern.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














