Bayi Berisiko Muntah Darah? Nestle Cabut 800 Produk Susu dari Rak

0
susu
Ilustrasi pabrik Nestle. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, LONDON – Kepercayaan orang tua di seantero Eropa kini tengah diuji. Raksasa pangan dunia, Nestle, mengumumkan penarikan besar-besaran terhadap sejumlah batch produk susu bayi andalan mereka seperti SMA, BEBA, dan NAN. Langkah darurat ini diambil setelah ditemukannya potensi kontaminasi toksin cereulide yang dapat memicu mual, muntah, hingga kram perut pada bayi.

Krisis ini menjadi ujian api bagi Philipp Navratil, CEO Nestle yang baru saja menjabat. Di tengah ambisinya untuk menstabilkan perusahaan setelah periode manajemen yang bergejolak, Navratil kini harus berhadapan dengan apa yang disebut oleh Kementerian Kesehatan Austria sebagai penarikan produk terbesar dalam sejarah perusahaan tersebut.

Ketegangan bermula dari laporan adanya masalah kualitas pada bahan baku yang dikirim oleh salah satu pemasok utama Nestle. Perusahaan segera melakukan investigasi mendalam terhadap rantai pasok mereka.

Baca Juga :  Venezuela Pimpin Daftar Negara dengan Cadangan Minyak Terbesar di Dunia

“Setelah ditemukan masalah kualitas pada salah satu bahan dari pemasok utama, Nestle melakukan pengujian terhadap semua minyak asam arakidonat dan campuran minyak terkait yang digunakan dalam produksi susu bayi yang berpotensi terdampak,” ungkap juru bicara Nestle dalam pernyataan resminya.

Meskipun Nestle menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan kasus penyakit, risiko yang mengintai tidak bisa dianggap remeh. Kontaminasi ini diduga berasal dari bakteri Bacillus cereus yang menghasilkan toksin cereulide.

Badan Standar Makanan Inggris (FSA) mengeluarkan peringatan keras mengenai karakteristik toksin ini yang sulit ditaklukkan. “Toksin ini tidak mungkin dinonaktifkan atau dihancurkan dengan memasak, menggunakan air mendidih, atau saat menyiapkan susu bayi. Jika dikonsumsi, dapat menimbulkan gejala cepat seperti mual, muntah, dan kram perut,” tulis badan tersebut.

Baca Juga :  DPMD Bogor Siapkan Langkah Tegas Tindaklanjuti Laporan Terhadap Kades Leuwisadeng

Skala penarikan ini mencakup wilayah geografis yang luas, mulai dari Austria, Jerman, hingga Inggris dan Norwegia. Lebih dari 800 produk yang diproduksi di 10 pabrik berbeda terdampak, termasuk adanya identifikasi risiko di salah satu fasilitas produksi Nestle di Belanda.

Bagi Nestle, krisis ini bukan sekadar masalah kesehatan publik, tetapi juga masalah ekonomi yang masif. Sebagai penguasa hampir seperempat pasar susu bayi global senilai $92,2 miliar, reputasi adalah segalanya. Divisi Nutrisi dan Ilmu Kesehatan merupakan tulang punggung perusahaan, menyumbang 16,6% dari total penjualan global yang mencapai 91,4 miliar franc Swiss pada tahun lalu.

Baca Juga :  Interpol Indonesia dan Polisi Singapura Bersinergi Bongkar Sindikat Perdagangan Bayi

Saat ini, Nestle telah merilis daftar nomor batch produk yang dilarang untuk dikonsumsi. Meski Otoritas Keselamatan Pangan Norwegia menyatakan tidak ada risiko kesehatan akut yang terdeteksi sejauh ini, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama.

Perusahaan kini berpacu dengan waktu untuk menarik produk dari rak-rak toko guna meminimalkan gangguan pasokan, sembari berusaha meyakinkan jutaan orang tua bahwa produk mereka tetap aman untuk masa depan buah hati.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber