Penarikan Susu Bayi Nestlé Soroti Kompleksitas Rantai Pasok Global

0
Nestlé
Ilustrasi Kantor Pusat Nestlé Deutschland. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, ZURICH – Di balik dinding kaca markas besar Nestlé di Swiss, suasana manajemen krisis sedang berada di titik nadir. Raksasa barang konsumsi dunia ini tengah berjuang keras meredam dampak reputasi yang kian meluas setelah produk nutrisi bayi mereka ditarik dari rak-rak toko di puluhan negara.

CEO Nestlé, Philipp Navratil, kini terpaksa mengambil langkah drastis. Hanya beberapa bulan setelah menduduki kursi kepemimpinan untuk memulihkan kinerja perusahaan, ia harus muncul dalam sebuah video permintaan maaf yang emosional. Langkah ini diambil setelah peringatan kesehatan terkait produk mereka membahana di sedikitnya 53 negara yang tersebar di Eropa, Amerika, Asia, hingga Afrika.

Penyebabnya bukan perkara sepele karena potensi kontaminasi cereulide, sejenis racun yang mampu memicu mual dan muntah hebat pada bayi.

Baca Juga :  Perpaduan Unik! Debby Lufiasita Rilis Buku Puisi dengan Nuansa Musik yang Memikat

“Kami memohon maaf atas kekhawatiran dan gangguan yang dialami para orang tua, pengasuh, dan konsumen akibat penarikan produk tersebut,” ujar Navratil dalam video yang dipublikasikan Selasa malam. Namun, ia memberikan sedikit catatan penenang, “Hingga kini tidak ada kasus penyakit yang terkonfirmasi terkait batch produk yang ditarik.”

Kasus ini menyingkap betapa rentannya rantai pasok global. Kontaminasi tersebut diduga berasal dari salah satu bahan baku krusial, yakni minyak asam arakidonat (ARA). Masalah kualitas ini terdeteksi di salah satu pabrik Nestlé di Belanda pada Desember lalu, yang kemudian memicu penarikan merek-merek ternama seperti SMA, BEBA, NAN, dan Alfamino.

“Kami telah menghentikan pasokan minyak ARA dari pemasok terkait,” tegas juru bicara Nestlé, seraya menambahkan bahwa produksi kini telah kembali berjalan menggunakan pasokan minyak yang aman.

Baca Juga :  APAKAH INDONESIA SUDAH MERDEKA?

Meski Nestlé enggan menyebut nama pemasok tersebut, mata publik tertuju pada pergerakan saham. dsm-firmenich yang terdaftar di bursa Amsterdam membantah terlibat, sementara perusahaan asal China, Cabio Biotech, sempat melihat sahamnya anjlok hampir 12% pada awal Januari meski belum memberikan komentar resmi.

Bagi Nestlé, krisis ini bukan sekadar masalah operasional, melainkan ancaman eksistensial di pasar China. Di negara dengan nilai pasar susu formula bayi yang diprediksi mencapai 185 miliar yuan (US$26,5 miliar) pada 2025 ini, isu keamanan pangan adalah luka lama yang sensitif.

Para ibu di China masih menyimpan trauma mendalam terhadap kasus kontaminasi susu di masa lalu. Tak heran jika otoritas regulasi pasar China (SAMR) langsung bergerak cepat mendesak tanggung jawab korporasi Nestlé. Analis dari Barclays menilai situasi ini bisa menjadi “cukup merusak” bagi posisi Nestlé di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Baca Juga :  5 Pilihan Pelancar ASI Alami yang Aman dan Mudah Didapatkan

Meski didera badai sentimen negatif, ada fenomena unik di lantai bursa. Setelah sempat tersungkur 4% sejak awal penarikan di bulan Januari, saham Nestlé justru merangkak naik 0,6% pada perdagangan Rabu. Pasar tampaknya sedang menimbang-nimbang sejauh mana efektivitas “mode manajemen krisis” yang dijalankan Navratil.

Kini, tugas berat menanti Navratil untuk memastikan bahwa botol susu yang sampai ke tangan para orang tua benar-benar aman, sebelum kepercayaan konsumen aset paling berharga perusahaan menguap tanpa sisa.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber