NARASITODAY.COM, JAKARTA – Peristiwa Isra Miraj menjadi salah satu momen paling monumental dalam sejarah Islam. Kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke langit hingga Sidratul Muntaha, tidak hanya tercatat dalam Al-Qur’an, tetapi juga dijelaskan secara rinci melalui berbagai hadis sahih. Hadis-hadis inilah yang memberi gambaran mendalam tentang perjalanan spiritual Rasulullah SAW dan makna besar di baliknya.
Dalam sejumlah riwayat hadis, dijelaskan bahwa sebelum perjalanan Isra Miraj dimulai, Rasulullah SAW mengalami peristiwa pembersihan hati. Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad SAW dan membersihkannya dengan air zamzam, lalu mengisinya dengan hikmah dan keimanan. Peristiwa ini kerap dimaknai sebagai simbol penyucian jiwa sebelum menerima amanah besar langsung dari Allah SWT.
Perjalanan Isra Miraj kemudian dilanjutkan dengan Rasulullah SAW menaiki Buraq, sebuah makhluk khusus yang digambarkan memiliki kecepatan luar biasa. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Buraq dijelaskan sebagai kendaraan nyata, bukan sekadar simbol atau kiasan. Rasulullah SAW ditemani Malaikat Jibril AS dalam perjalanan tersebut, menegaskan bahwa peristiwa Isra Miraj merupakan kejadian hakiki yang terjadi atas kehendak Allah SWT.
Dalam fase Miraj, Nabi Muhammad SAW naik menembus lapisan-lapisan langit dan bertemu dengan para nabi terdahulu. Di langit pertama, Rasulullah bertemu Nabi Adam AS, lalu Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS di langit kedua, Nabi Yusuf AS di langit ketiga, Nabi Idris AS di langit keempat, Nabi Harun AS di langit kelima, Nabi Musa AS di langit keenam, dan Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh. Setiap pertemuan ini menggambarkan persaudaraan para nabi dan memperlihatkan kemuliaan perjalanan spiritual Rasulullah SAW.
Perjalanan tersebut membawa Rasulullah SAW hingga ke Baitul Makmur, tempat ibadah para malaikat yang setiap harinya didatangi puluhan ribu malaikat dan tidak pernah dikunjungi dua kali oleh malaikat yang sama. Setelah itu, Rasulullah SAW melihat Sidratul Muntaha, sebuah tempat tertinggi yang menjadi batas terakhir makhluk ciptaan Allah SWT. Gambaran Sidratul Muntaha dalam hadis menunjukkan kebesaran dan keagungan ciptaan Allah yang berada di luar jangkauan akal manusia.
Puncak dari perjalanan Isra Miraj adalah diterimanya perintah salat lima waktu. Dalam hadis disebutkan bahwa awalnya salat diwajibkan sebanyak 50 waktu dalam sehari, sebelum akhirnya diringankan menjadi lima waktu atas rahmat Allah SWT. Meski jumlahnya berkurang, pahala yang diberikan tetap setara dengan 50 waktu salat. Menariknya, perintah salat ini diterima langsung oleh Rasulullah SAW di langit, bukan di bumi seperti kewajiban ibadah lainnya.
Hal ini menegaskan posisi salat sebagai ibadah utama dan bentuk komunikasi langsung antara hamba dengan Allah SWT. Dalam hadis lain disebutkan bahwa posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia bersujud. Karena itu, salat bukan sekadar kewajiban rutin, melainkan sarana spiritual untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Melalui rangkaian hadis tentang Isra Miraj, umat Islam diajak untuk tidak hanya memahami kisahnya secara historis, tetapi juga mengambil hikmah di dalamnya. Isra Miraj menjadi pengingat akan kebesaran Allah SWT, keterbatasan akal manusia, serta pentingnya menjaga keimanan dan kualitas ibadah, khususnya salat lima waktu, dalam kehidupan sehari-hari. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : idntimes.com














