NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kesibukan mempersiapkan musim haji mendatang, aroma persaingan tidak sehat mulai tercium di koridor penyediaan barang dan jasa. Menanggapi hal itu, Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochammad Irfan Yusuf, yang akrab disapa Gus Irfan, mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi para “pemain” yang mencoba mengintervensi proyek haji dengan mencatut nama pejabat.
Gus Irfan mengungkapkan bahwa dirinya telah mengendus adanya oknum-oknum nakal yang bergerilya mengejar proyek dengan mengaku sebagai orang dekat menteri maupun wakil menteri. Baginya, praktik “titip-menitip” ini adalah parasit yang dapat merusak kualitas layanan bagi jemaah di tanah suci.
“Banyak yang mengaku-ngaku, ada yang bilang dari tim menteri, dari wakil menteri, dari pejabat. Itu sudah pasti akan ditanya. Semua sikat saja, tidak ada yang kita lindungi. Pejabat tidak mungkin melakukan titip-titip,” tegas Gus Irfan di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Ketegasan Gus Irfan bukan sekadar gertakan di atas kertas. Ia membeberkan bahwa baru-baru ini timnya di lapangan sempat mengalami tekanan intervensi. Alih-alih melunak, Gus Irfan justru memerintahkan investigasi mendalam, bahkan jika itu harus mengarah pada “orang dalam” di kementeriannya sendiri.
“Kemarin ada intervensi ke tim saya, saya minta teruskan investigasi. Kalau ada orang kita di Kemenhaj yang terlibat, sikat!” tuturnya dengan nada bicara yang lugas.
Gus Irfan menyadari sepenuhnya bahwa nama besar jabatannya serta Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) menjadi komoditas yang “dijual” oleh pihak tak bertanggung jawab demi keuntungan pribadi. Namun, ia memastikan pintu kompromi telah tertutup rapat dan terkunci.
“Saya yakin ada yang pakai nama saya dan wakil menteri. Saya dan wakil menteri tidak akan pernah mentoleransi hal seperti itu,” lanjut Gus Irfan.
Saat ini, mata dan telinga Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) tertuju pada progres di Arab Saudi. Tim di lapangan tengah bekerja keras memastikan akomodasi, katering, hingga transportasi bagi jemaah sesuai dengan standar yang ditetapkan. Gus Irfan menegaskan bahwa setiap sen uang jemaah harus kembali dalam bentuk layanan yang maksimal, bukan mengalir ke kantong para pemburu rente.
“Kami hanya menunggu dari tim sejauh mana capaian-capaian penyediaan barang dan jasa di Saudi,” katanya.
Dengan pengawasan ketat dan sikap antikorupsi yang ditunjukkan di awal masa tugasnya, Gus Irfan berharap penyelenggaraan haji tahun ini bersih dari praktik lancung dan sepenuhnya berorientasi pada kenyamanan tamu Allah.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














