
NARASITODAY.COM, TURIN – Stadion Juventus akan menjadi panggung pembuktian bagi “Si Nyonya Tua” saat menjamu wakil Portugal, Benfica, dalam lanjutan fase liga Liga Champions pada Kamis (22/1/2026). Di bawah sorotan lampu stadion dan ekspektasi tinggi para pendukungnya, Juventus tidak hanya bertarung memperebutkan tiga poin, tetapi juga berjuang melawan sejarah kelam yang menghantui mereka.
Juventus saat ini bertengger di peringkat ke-17 dengan raihan sembilan poin, sementara tim tamu membuntuti di posisi ke-26 dengan enam poin. Kemenangan menjadi harga mati bagi anak asuh Luciano Spalletti jika ingin menjaga asa lolos langsung ke babak 16 besar tanpa melalui jalur play-off.
Namun, tembok besar bernama “rekor buruk” berdiri kokoh di depan mata. Klub asal Turin ini tercatat tak pernah menang dalam lima pertemuan terakhir melawan Benfica di kompetisi Eropa, dengan rincian empat kekalahan menyakitkan dan hanya satu hasil imbang. Bahkan, dalam tiga duel terakhir di panggung Liga Champions, Juventus selalu dipaksa bertekuk lutut oleh “Si Elang”.
Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, menyadari sepenuhnya bahwa lawan yang akan mereka hadapi bukanlah tim sembarangan. Ia memperingatkan pasukannya agar tidak terhipnotis oleh gaya permainan khas Portugal yang seringkali menjebak lawan.
“Saat Anda bermain melawan tim seperti Benfica, Anda menghadapi bagian dari sejarah sepak bola, sebuah identitas. Tim-tim Portugal menarik Anda ke dalam ritme mereka dan jika Anda tidak hati-hati, Anda akan terjebak di dalamnya. Saya berharap para pemain kami siap. Benfica memiliki apa yang dibutuhkan untuk bersaing dengan siapa pun. Mereka memiliki kualitas yang hebat,” ujar Spalletti sebagaimana dikutip dari laman resmi UEFA.
Kekalahan 0-2 di kandang pada musim lalu, serta memori pahit tahun 2022 saat mereka takluk 4-3 dan 1-2 dari Benfica, menjadi pengingat pedih betapa berbahayanya tim asuhan Roger Schmidt tersebut. Spalletti menilai Benfica memiliki materi pemain yang sangat kompetitif dan pengalaman Eropa yang mumpuni untuk kembali mempermalukan tuan rumah.
Laga ini bukan sekadar urusan taktik di atas lapangan hijau, melainkan ujian mental bagi Dusan Vlahovic dan kolega untuk membuktikan bahwa Juventus Stadium tetaplah benteng yang angker. Akankah Spalletti mampu meramu strategi untuk memutus dominasi Benfica, ataukah ritme permainan tim Portugal tersebut kembali akan menelan ambisi Bianconeri?
Dunia akan melihat jawabannya saat peluit pertama dibunyikan di Turin besok malam.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com













