NARASITODAY. COM, JAKARTA – Menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, belakangan ramai diperbincangkan usai menyajikan buah kecapi. Video yang viral di media sosial memicu protes warganet karena buah tersebut dianggap kurang cocok untuk balita hingga anak sekolah dasar yang menjadi penerima manfaat program.
Menanggapi polemik ini, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat telah menyampaikan permohonan maaf dan menyatakan akan melakukan evaluasi menu ke depannya. Buah kecapi sendiri dipilih dengan tujuan mengenalkan buah lokal kepada anak-anak.
Ahli gizi masyarakat dr Tan Shot Yen menegaskan, dari sisi kandungan gizi, buah kecapi sebenarnya aman dan layak dikonsumsi anak-anak. Buah ini mengandung antioksidan, vitamin C, serta mineral yang berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh, sama seperti buah-buahan lainnya.
Menurut dr Tan, penolakan lebih disebabkan faktor ketidakterbiasaan. Banyak anak belum familiar dengan rasa, tekstur, dan bentuk buah kecapi, sehingga muncul anggapan tidak cocok. Di sinilah peran edukasi menjadi penting, terutama dalam program pangan berbasis masyarakat.
Secara ilmiah, buah kecapi atau santol juga dikenal mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid dan triterpenoid yang bersifat antioksidan dan antiinflamasi. Namun, ia mengingatkan bahwa biji kecapi bersifat toksik dan tidak boleh ikut dikonsumsi, sehingga penyajian harus dilakukan dengan benar.
Kesimpulannya, buah kecapi bukan pilihan keliru dari sisi gizi. Meski begitu, aspek penerimaan anak, cara pengolahan, serta edukasi kepada penerima manfaat tetap perlu menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan menu MBG. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth













