
NARASIITODAY.COM, KABUL – Alam seolah tidak memberi jeda bagi warga Afghanistan. Di tengah infrastruktur yang rapuh dan kemiskinan yang mencekik, cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, hingga badai salju kembali membawa duka. Sedikitnya sembilan nyawa anak-anak melayang dalam rangkaian bencana yang menghantam wilayah selatan dan timur negara itu sepanjang pekan ini.
Hingga Kamis (22/1/2026), ancaman baru kian nyata. Ibu kota Kabul dan berbagai provinsi lainnya kini mulai terkubur di bawah hujan salju tebal yang melumpuhkan jalur transportasi dan aktivitas ekonomi.
Wilayah selatan Afghanistan menjadi salah satu titik terdalam luka kali ini. Di Provinsi Kandahar, amukan angin kencang dan hujan deras pada Rabu (21/1/2026) merenggut nyawa enam orang anak. Departemen penanggulangan bencana setempat melaporkan bahwa badai tersebut tidak hanya mematikan, tetapi juga menyapu rumah-rumah warga dan menimbulkan kerugian finansial yang signifikan di beberapa distrik.
Tragedi tak kalah memilukan terjadi di sisi timur, tepatnya di Provinsi Nuristan. Sebuah bukit yang jenuh karena hujan lebat mendadak runtuh, mengirimkan material tanah longsor yang menghantam satu rumah di desa Quraish.
“Dua anak perempuan berusia 10 tahun dan seorang remaja laki-laki tewas,” kata juru bicara pemerintah provinsi Nuristan, Fraidoon Samim, kepada AFP.
Dua anggota keluarga lainnya dilaporkan terluka dalam insiden tersebut, menambah panjang daftar warga yang harus kehilangan tempat tinggal sekaligus orang tercinta dalam semalam.
Beralih ke wilayah tengah, Provinsi Ghazni kini tampak seperti kota mati yang memutih. Laporan AFP menyebutkan salju setebal 80 sentimeter turun hanya dalam waktu 24 jam. Tumpukan salju yang masif memaksa pasar-pasar tutup dan memutus akses jalan utama, mengisolasi warga dari bantuan medis maupun logistik.
Di Kabul, salju yang turun tanpa henti menyebabkan aspal menjadi licin dan jarak pandang menyempit drastis. Rangkaian kecelakaan lalu lintas pun dilaporkan terjadi di berbagai sudut kota saat warga mencoba beradu dengan dinginnya cuaca.
Afghanistan secara geografis merupakan negara yang akrab dengan banjir bandang dan tanah longsor. Namun, kombinasi antara medan terpencil dan infrastruktur yang tak memadai membuat setiap bencana alam hampir selalu berakhir dengan catatan korban jiwa.
Kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi ini terus menempatkan komunitas-komunitas rentan dalam bahaya permanen. Di balik keindahan salju yang menyelimuti pegunungan Afghanistan, tersimpan realitas pahit tentang perjuangan bertahan hidup yang semakin sulit bagi rakyatnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













