
NARASITODAY.COM, TAURANGA – Di bawah bayang-bayang megah Gunung Maunganui, suasana perkemahan yang biasanya penuh tawa kini berubah menjadi medan perjuangan yang senyap dan penuh lumpur. Tim penyelamat di pantai timur Pulau Utara Selandia Baru kini tengah berpacu dengan waktu dan cuaca ekstrem untuk menemukan enam orang yang hilang tertimbun tanah sejak Kamis (22/1/2026).
Skala bencana yang masif di kota Tauranga ini telah menarik perhatian nasional. Di antara puing-puing tanah yang masih labil, terselip harapan keluarga dari enam korban, termasuk dua remaja yang salah satunya baru berusia 15 tahun. Meski suara-suara sempat terdengar dari balik reruntuhan pada hari pertama, keheningan yang mencekam kini menyelimuti lokasi pencarian.
Hingga Sabtu (24/1/2026), alat berat terus menderu, mencoba menguak timbunan material. Namun, setiap jengkal kemajuan sangat bergantung pada kondisi alam. Pejabat Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Selandia Baru, Megan Stiffler, menegaskan bahwa keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama di tengah medan yang terus bergerak.
“Personel belum melakukan pencarian di area tersebut sejak saat itu demi keselamatan mereka, tetapi area tersebut terus dinilai ulang,” ujar Megan Stiffler.
Tantangan semakin berat dengan prediksi hujan deras yang kembali mengguyur daerah tersebut. Jika hujan turun, tim penyelamat kemungkinan besar terpaksa mundur demi menghindari risiko longsor susulan, yang akan membuat upaya evakuasi memakan waktu lebih lama.
Tragedi ini terjadi di tengah pekan yang kelam bagi Selandia Baru. Hujan lebat yang memicu longsor di area perkemahan ini juga menyebabkan bencana serupa di wilayah tetangga, Papamoa, yang telah merenggut dua nyawa.
Kehadiran Perdana Menteri Christopher Luxon di lokasi pada Jumat lalu menjadi simbol duka nasional. Di hadapan para keluarga korban yang menanti dengan cemas, Luxon menyampaikan simpati mendalam dari seluruh rakyat Selandia Baru.
“Mereka sangat berduka, dan saya tahu bahwa Selandia Baru berduka bersama mereka,” ungkap Perdana Menteri Christopher Luxon.
Hingga kini, bendera harapan masih berkibar di tengah cuaca yang tak menentu. Meskipun belum ada tanda-tanda kehidupan baru yang terdeteksi sejak suara terakhir terdengar pada hari Kamis, pihak berwenang berkomitmen untuk terus menyisir lokasi hingga status keenam warga tersebut mendapatkan kepastian.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













