Harga Pangan Strategis Masih Tertekan Jelang Ramadan, KSP Soroti Distribusi

0
Pasar Cibinong
Ilustrasi pasar tradisional yang menapilkan sayuran segar-segar. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Menjelang Ramadan, sejumlah harga pangan strategis masih menunjukkan tekanan meski stok nasional dinilai relatif aman. Pemantauan Kantor Staf Presiden (KSP) mencatat, harga di lapangan belum sepenuhnya terkendali dan masih timpang antarwilayah.

Plt Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan KSP, Popy Rufaidah, menegaskan bahwa kondisi harga pangan berada pada level aman hingga waspada, namun beberapa komoditas tetap memerlukan pengawasan ketat.

“Hasil pemantauan kami menunjukkan harga pangan strategis secara umum masih terkendali, tetapi beras medium di sejumlah zona, serta cabai merah dan cabai rawit masih perlu mendapat perhatian karena sensitif terhadap cuaca dan distribusi,” kata Popy dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Selasa (27/1/2026).

Ketimpangan Harga Beras

Beras medium menjadi komoditas paling mencerminkan ketimpangan antarwilayah. Data KSP per 23 Januari 2026 menunjukkan:

  • Zona 1: harga Rp13.433/kg, masih aman di bawah HET Rp13.500.
  • Zona 2: harga Rp14.399/kg, masuk kategori waspada karena 2,86% di atas HET Rp14.000.
  • Zona 3: harga Rp18.475/kg, jauh di atas HET Rp15.500 atau 19,2%.
Baca Juga :  Ketahanan Energi China di Tengah Konflik Timur Tengah, Strategi Jangka Panjang dan Diversifikasi

“Zona 1 aman, zona 2 sudah waspada karena harga sedikit di atas HET, dan zona 3 masih tidak aman dengan harga jauh di atas HET, meskipun terdapat koreksi bulanan,” ujarnya.

Popy menekankan bahwa persoalan beras bukan soal ketersediaan nasional, melainkan distribusi dan akses logistik yang belum merata.

Harga telur ayam ras nasional masih tinggi, sekitar Rp33.800/kg atau 12,7% di atas HAP Rp30.000. Tingginya harga telur berkaitan erat dengan mahalnya jagung pakan ternak, yang mencapai Rp7.000/kg atau lebih dari 20% di atas acuan.

“Jagung pakan perlu diantisipasi karena berkaitan langsung dengan biaya produksi ayam dan telur, sehingga tidak menjadi beban bagi peternak maupun konsumen,” kata Popy.

Baca Juga :  Peringatan HPS ke-45, Bogor Tingkatkan Kesadaran Konsumsi Pangan Bergizi dan Berkelanjutan

Daging ayam ras pun masih berstatus waspada dengan harga Rp41.800/kg, 4,5% di atas HAP Rp40.000.

Hortikultura dan Minyak Goreng

  • Bawang merah: Rp45.700/kg, 10,12% di atas HAP, dengan disparitas harga antar daerah mencapai 28%.
  • Bawang putih: Rp42.900/kg, naik 0,94% secara bulanan, 12,89% di atas HAP.
  • Cabai rawit merah: Rp59.000/kg, turun hampir 19% dalam sebulan, namun disparitas antar daerah masih 46,5%.
  • Cabai merah keriting: Rp44.900/kg, masuk kategori aman, meski disparitas mencapai 56%.
  • Minyakita: Rp18.000/liter, jauh di atas HET Rp15.700.
  • Gula pasir curah: status waspada dengan disparitas harga 13%.

Harga cabai rawit mulai turun hampir 19%, tetapi disparitasnya masih sangat tinggi sehingga pengendalian harga daerah dan distribusi lintas wilayah tetap perlu dikawal,” ungkap Popy.

KSP mencatat empat komoditas dengan risiko sangat tinggi: beras medium, cabai merah keriting, cabai rawit merah, dan jagung pakan. Berdasarkan data historis, tujuh komoditas diproyeksikan menjadi kontributor utama inflasi Ramadan, termasuk beras, cabai rawit, Minyakita, daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai merah.

Baca Juga :  Syifa Hadju Tunjukkan Keharmonisan dengan Keluarga El Rumi Lewat Berbagai Momen Berkesan

“Tantangan utama saat ini bukan pada pasokan nasional, tetapi pada distribusi antar daerah, sehingga penguatan pengendalian harga di daerah, percepatan intervensi pasar, dan pengawalan distribusi menjadi kunci,” ujarnya.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana harga pangan bukan sekadar angka, tetapi juga mencerminkan denyut kehidupan masyarakat menjelang bulan suci. Di pasar tradisional, pedagang kecil merasakan langsung dampak fluktuasi harga, sementara konsumen harus menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.

Untuk meredam gejolak harga, KSP mendorong intervensi lebih dini berbasis zona dengan harga ekstrem, melalui operasi pasar, penyaluran beras SPHP, penguatan TPID, gerakan pangan murah, hingga fasilitasi distribusi lintas wilayah.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com